PageNavi Results Number

Aneh, Mengapa Aksi Penolakan Kasus Agraria Tak Kunjung Selesai ?



Ilustrasi Aksi Tolak Tambang (sumber : paraparatv.id)


           
Maraknya fenomena kasus agraria di Negara Indonesia menjadikan hal yang menarik untuk dijadikan bahan obrolan dikalangan para aktivis. Nbrolan tersebut terjadi dimana seiring eksisnya para aktivis, entah terjadi di area kampus, warung kopi ataupun di tempat tinggalnya (Kost, Kontrakan dll). Analisis tajam serta gagasan dari para aktivis tersebut mulai diejawantahkan, tak wajar jika mereka saling serius untuk menyikapi berbagai persoalan Agreria.

            Katakanlah, berbagai masyarakat yang tinggal di berbagai daerah yang mempunyai potensi kekayaan alam hingga hari ini masih was-was karena kebun, sawah dan hutan mereka tak ada perlindungan negara. Berbagai izin kepada perusahaan-perusaahan serta PT-PT keluar diatas lahan warga setempat yang dijadikan sebagai tempat pangkuan hidup.

            Ekspansi  besar-besaran berbagai PT pertambangan  dianggap  sebagai  ancaman  bagi ekologi.  Maraknya lahan pertambangan  di  Indonesia menyebabkan beberapa  permasalahan, seperti,  degradasi luas  hutan  tropis, praktik  illegal logging,  alih fungsi  lahan  pertanian  rakyat,  kebarakan  hutan, polusi,  erosi,  pelanggaran  Hak  Asasi  Manusia,  paparan  pestisida,  perselisihan  buruh, perlakukan tidak  adil pada  petani kecil, dan  eksploitasi tenaga kerja perkebunan.  Pembukaan  lahan  pertambangan atau yang lainnya telah  ikut menghancurkan keanekaragaman  hayati dan mengancam ketahanan pangan masyarakat setempat.Sehingga hari ini sebagian besar mahasisiwa beriringan mendampingi para warga yang terdampak untuk melakukan perlawanan demi mempertahankan hak-hak mereka.

            Sejauh aktifitas perlawanan tersebut bisa dikatakan hanya sekitar 5 % keberhasilannya (nyaris tak membuahkan hasil), ada hal aneh yang membuat mereka hanya mencapai keberhasilan pada angka 5 %. Lantas dimanakah dan apakah keanehan ataupun kesalahan yang terjadi pada rentetan aksi penolakan terhadap kasus-kasus agrarian ?

            Berbagai pendapat yang bisa saja ditemukan di warung kopi, kesalahan yang terjadi pada rentetan aksi tolak tambang ataupun kasus-kasus lainnya adalah terletak kurangnya ketajaman dalam menganalisa persoalan. Salah satu kurangnya dalam menganalisa siapakah yang memangku kebijakan tentang perizinan praktik ekspansi lahan, lemahnya dalam menganalisis dampak lingkungan baik jangka pendek ataupun jangka panjang, serta dampak ekonomi makro ataupun mikro terhadap penduduk setempat.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus untuk mengentaskan ekspansi besar-besaran dalam pemanfaatan lahan. Diantaranya :

1.       Kenalilah Pemangku Kebijakan Dalam Perizinan Operasi Pemanfaatan Lahan

komunikan tidak akan pernah merespon jika pesan yang disampaikan salah sasaran (sumber : SHIFTindonesia)

Sangat nihil segala bentuk penolakan jika penolak tidak mengetahui siapakah yang membuat kebijakan. Terdapat ketimpangan komunikasi ataupun kesalahan pada pola komunikasi dari para pengaksi kepada atasan. Para pengaksi akan sia-sia walaupun teriakan lantang terhadap penolakan pemanfaatan lahan serta kibaran bendera disana-sini jika komunikasinya disampaikan kepada pihak yang salah. harus bisa mengklasifikasi kebijakan tentang perizinan proyek tambang apakah diranah pemerintahan daerah (kota) atau provinsi.

2.    Pertajam Analisis Dampak Lingkungan (Jangka Panjang Ataupun Jangka Pendek)

ilustrasi kekeringan akibat pertambangan (sumber : ayosemarang.com)

Pada setiap penolakan akan beberapa kebijakan tentunya terdapat berbagai hal yang melatar belakanginya, seperti halnya dampak terhadap lingkungan yang disebabkan dari pemanfaatan lahan tersebut. tentunya para aktivis telah melakukan analisis terlebih dahulu dalam mengambil keputusan, terkait dampak lingkungan. Jika dampaknya berbuah ketentraman maka tidak seharusnya melakukan penolakan karena ujung-ujungnya akan berbuah kesejahteraan dan kemaslahatan. Jika sebaliknya maka perlawanan ataupun penolakan harus dilontarkan. Hal tersebut t dengan kegelisahan pada setiap warga yang lahan-lahannya dimanfaatkan oleh proyek pemerintah, khawatir dikemudian hari Ia menjadi terlantarkan karena mendatangkan berbagai ancaman bahaya seperti longsor, banjir, eropsi dan lain sebagainya.


3.3  Dampak Perekonomian Masyarakat Setempat (Jangka Pendek Ataupun Jangka Panjang)

ilustrasi kekeringan pada lahan pertanian yang diakibatkan oleh proyrk pertambangan (sumber : mongabay.co.id)


Dilansir dari beberapa sumber, Keberadaan perusahaan pertambangan dan pemanfaatakan lahan yang beroperasi di daerah-daerah berpotensi akan SDA, membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lokal. Berdasarkan hasil pengamatan, kehadiran perusahaan tersebut memberikan dampak positif terhadap kesempatan bekerja masyarakat pada sektor pertambangan, akan tetapi hanya dalam skala yang sangat kecil. Meskipun demikian, persepsi masyarakat terhadap perusahaan pertambangan cenderung tidak memiliki dampak yang positif.

sebagian besar masyarakat menganggap bahwa kehadiran perusahaan pertambangan tidak berpengaruh untuk membuka usaha bagi masyarakat setempat. Justru keberadaannya mematikan usah di sektor pertanian, perkebunan dan perikanan. Kekeringan dan perpindahan irigasi untuk mengairi kebun ataupun sawah sering merusak tanaman masyarakat, baik tanaman padi maupun yang lainnya sehingga menurunkan tingkat produksi hasil pertanian atauperkebunan. Tingkat pendapatan masyarakat menjadi menurun dan tidak jarang petani yang bertempat disekitar pertambangan menderita setiap harinya.

Disisi lain keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut menggambarkan bahwa kebijakan pertambangan ini tidak berpihak pada kepentingan masyarakat lokal tetapi lebih memihak pada pemilik modal serta para investor. Sangat menyakitkan jika mengingat hak hidup dan hak atas tanah bagi masyarakat di korbankan, padahal mereka sudah menempati tempat tersebut sudah bertahun-tahun lamanya bahkan berpuluh-puluh tahun.

            Jika analisisnya mengarahkan terhadap beberapa gambaran diatas maka upaya yang dilakukan oleh para aktivis mengawal masyarakat terdampak benar-benar harus dipertahankan. Namun, aksi turun jalan untuk menyuarakan ketidakadilan harus tertib procedural dan tepat pola komunikasinya agar yang diperjuangkan berbuah keberhasilan. Serta masyarakat yang hak-haknya dirampas dapat tertolong dan mereka kembali tersenyum dan beraktifitas seperti sedia kala.

 


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel