Natasha, Aku Takut Jatuh Cinta
Thursday, 2 May 2019
Natasha, Aku Takut Jatuh Cinta
Park 1
“kring.... kring .....
kring .....” bunyi smartphone Rian yang mengusik tidur siangnya. “ahhhhh
siapa sehhh siang-siang gini nelpon ? ganggu istirahatku aja”. Ngomel Rian
yang merasa terganggu dengan suara smartphone genggamnya sambil menutup telpon
seseorang. Namun, “kring.... kring.... kring......kring..” smartphonenya
bunyi lagi. “ahhhhhhhh..... sialan banget nie orang orang siapa sehh?” Rian
masih ngomel-ngomel sambil melihat kelayar smartphonenya dan ingin tahu siapa
yang hendak mengganggu istirahat siangnya.
Betapa terkejutnya Rian ketika melihat nama Natasha yang muncul di
layar smartphone genggamnya, lalu Rian pun buru-buru mengangkat teleponnya. “hallo
Ian...?” suara wanita terdengar dari seberang sana. “kaukah itu Nat ?”
tanya Rian kepada wanita di seberang sana. “Iya Ian, ini aku Natasha, masak kamu sudah
lupa?”. Jaawab wanita itu. “mana mungkin aku bisa melupakan seorang
teman se usil kamu Nat.” Jawab Rian. “Rian kamu ada di mana?” tanya
Natasha lagi. “Aku masih ada luar kota nie. Ada tugas dari sekolah nie, ada
apa kamu pasti rindu aku ya. Lantaran lama sekali kau tidak menemui aku” jawab
rian dengan entengnya. “ahh PD mu ternyata tetap aja setinggi langit”. Jawab
wanita di telpon itu. “hahahahah ada apa Nat ? ngomong dah” suara Rian
sambil tertawa. “ahh gak jadi sudah... aku kira kamu ada di sini ternyata
kamu jauh di sana. Aku ingin cerita sama kamu mungkin kamu bisa memberiku
solusi atau apalah sehinga pikiranku sedikit lebih tenang” jawab natasha
dengan nada lesu ketika mengetahui Rian teman dekatnya berada di luar kota. “kamu
kapan pulang?” imbuhnya. “kurang tau masih ya, mungkin masih tinggal 2
minggu lagi, ada apa seh pentingkah?” tanya rian penasaran. “gak papa
dah aku nunggu kamu balek aja wes” ucap natasha sambil memutuskan
teleponnya. Rian semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan teman
dekatnya itu.
Rian dan Natasha merupakan dua orang pelajar yang sudah kenal cukup
akrab. Mereka berdua sama-sama anak rantau yang menimbah ilmu di kota Bandung.
Rian merupakan seorang remaja berambut coklat asal Riau. Sedangkan Natasha
pemilik senyuman manis berasal dari Sumatera namun Menetap di Bekasi bersama
kedua orang tuanya dan satu adek perempuannya. Meraka berkenalan pertama kali
sejak awal memasuki Perguruan Tinggi Negeri di Bandung tepatnya dua tahun yang
lalu.
Akhir-akhir ini mereka berdua memang jarang ketemu. Pertama di karenakan jurusan pendidikan yang mereka
ambil berbeda, di tambah Rian mulai tahun kemarin pindah kontrakan. Sehingga kontrakan
Rian dan rumahnya Natasha sedikit berjauhan. Apalagi dua bulan ini Rian di
tugaskan dari sekolah untuk praktek ke luar kota, sehingga sangat kecil
kemungkinan bagi mereka untuk bertemu.
Karawang merupakan tempat Rian di tugaskan praktek dari sekolahnya.
Pasa saat itu Rian yang sedang duduk santai dengan teman sebayanya tiba-tiba teringat
denga nada lesu Natasha di telepon tadi. Rasa penasaran yang yang berada di
benak Rian semakin membesar. Akhirnya Rian memutuskan untuk menghubungi Natasha
Via WhatsApp. Tetapi hari ini merupakan hari sial bagi Rian karena paketan data
di smartphonenya habis sehingga dia tidak bisa menghubungi Natasha. Namun Rian
teringat bahwa dia tidak lagi sendirian dia lagi bersama temannya yang bernama
Zaen.
Berfikir sejenak akhirnya dia memulai pembicaraan dengan Zaen. “hei
zaen yang manis” sebelum dia selesai berbicara tiba-tiba saja Zaen memotong
ucapannya. “hemm baya sapaan yang ada maunya nih.. iya kan” tanya Zaen
dengan nada sinis “ehh bukan gitu, paketanku habis nie. Aku ingin
menghubungi temanku, boleh aku numpang tetring bentar gak?” pinta Rain yang
sedikit memohon. “iya dah, nanti bayar tapi ya” jawab Zaen sambil
bercanda. “ahh kamu memang temanku yang selalu ada saat aku membutuhkan
pertolongan”. Jawab Rian dengan penuh kegembiraan.
Akhirnya setelah Rian bisa menghubungkan koneksi Internet atas
bantuan Zaen dia mulai menghubungi Natasha dengan cara mengirim pesan via
WhatsApp. “hay nat” pesan di kirimkan ke natasha. Tiba-tiba beberapa
deti kemudian natasha menjawabnya “Ia Ian ada apa?”. Rian pun bergegas membalas pesan dari Natasha “sepertinya
kamu hendak ingin membicrakan sesuatu deh, dan kenapa suaramu begitu lesu juga?
Ayok ngomong dah” balas Rian pada Natasha. Natasha pun membalasnya lagi “iya
Ian sebenarnya aku pengen cerita-cerita sama kamu, tapi kamu mau gak ya
dengerin aku bercerita tentang kehidupanku?”. “Iya mau lah Nat Kamu kan
temanku” jawab Rian menyakinkan Natasha. “Tapi Ian aku lebih suka untuk
berbicara secara langsung di depanmu, kamu gak bisa pulang tha kesini walaupun
hanya sebentar?” elak Natasha. “tapi boleh gak aku maen ke rumahmu?”
Rian balek bertanya pad natasha. “boleh kok, jadi kamu pulang?” jawab
Natasha menggunakan smile tersenyum menandakan perasaannya senang membaca pesan
dari Rian. “ok dah klok gitu mungkin besok aku kerumahmu” jawab Rian.
“beneran ya Ian?, aku tunggu ya jam berapa” jawab Natasha dengan senang. “itu
rahasia pokoknya kamu besok seharian
jangan kemana-mana ya” kata Rian. “Ok dah klok gitu aku besok akan
menunggumu ya” jawab Natasha. “Ok,, uda dulu ya kita lanjut besok dah,
aku gak ada paketan nie, numpang tetring aku sama temanku gak enak klok
lama-lama. Byeee” balas Rian sambil memutuskan koneksi internetnya.
Keesokan harinya tepatnya pukul 07:00 WIB Rian teringat bahwa hari
ini dia punya janji dengan Natasha untuk mendatangi rumahnya, diapun bergegas
untuk bersiap-siap berangkat kerumah Natasha. Ada yang berbeda dari sikap dan
tingkah laku Rian pagi itu. Rian begitu sangat bahagia sehingga menimbulkan
pertanyaan bagi teman-teman yang melihatnya. “hoyy mau kemana kamu rapi
bener nie, kyaknya mau bertemu seseorang nie?” Rian kaget mendengar suara
Zaen dari arah pintu. Ternyata di depan pintu kamarnya berdiri dua orang
temannya yang sedari tadi memperhatikan kelakuan Rian. “iyalah aku mau
menemui seseorang hari ini, mau ikut kalian? Jawab Rian sambil mengajak kedua temannya tersebut.
“ahh gak mau lah, kamu mau jadiin aku nyamuk dan memperhatikanmu yang sedang
kencan gitu? Jawab Hairul yang berdiri di samping Zaen. “buset,,,..
siapa yang mau kencan? Aku mau ke rumah temenku tauk.” Rian menyangkal
tuduhan kedua temannnya itu. “iya dah klok gitu hati-hati di jalan, aku mau
tetap disini” jawab zaen sambil meninggalkan Rian di kamarnya.
Rian pun keluar kamar langsung menuju garasi motor CB 100
kesayangannya. Dia membersihkan sedikit debu yang menempel di motor tersebut
kemudian menyalakannya lalu melaju di atas Aspal hitam jalanan. Sekitar satu
jam setengah berhentilah motor di depan rumah natasha. Rian pun turun dari
motornya dan berjalan kedepan pintu sambil mengetoknya.
Tok.... tok..... tok... Rian sambil mengetok pintu menyapa pemilik rumah “permisi” beberapa
detik kemudian terdengar suara dari dalam “iya... siapa?”. Ternyata
suara Nataasha merespon panggilan Rian di depan pintu. Rian yang mengenal
pemilik suara tersebut langsung menjawabnya “ini aku Nat.. rian”.
Selesai menjawab pertanyaan Natasha, terlihatlah Natash yang sedang membuka
pintu rumahnya. “kamu sendirian Ian” tanya Natasha. “Ia nie” jawab Rian singkat. “oalah.... ayok masuk
Ian” ajak Natasha sambil lalu di ikuti oleh Rian dari belakang.
Mereka berdua pun duduk-duduk di sofa rumah Natasha. “kamu tinggal
berapa hari lagi di sana Ian” Tanya
Natasha membuka pembicaraan. “mungkin dua minggu lagi Nat” jawab Rian. “oalah
masih lama ya, sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku ceritakan sama kamu Ian,
ini masalahku” kata Natasha sedikit layu mendengar jawaban yang Rian masih
lama di tempat magangnya “iya cerita aja dah nat, aku mau kok mendengarkan
curhatanmu” jawab Rian sambil terukir senyum dibibir Natasha mendengar
pernyataan Rian yang siap mendengarkan curhatannya.
Natasha pun mengambil Nafas panjang seolah-olah cerita yang hendak
di sampaikan berat baginya. “jadi gini Ian ... aku dulu punya teman cowok,
mungkin dia adalah teman pertamaku ketika aku mulai masuk di sekolah ini.
Akupun berteman dengannya sangat dekat, kami juga sering ngerjakan tugas
bareng”. Natasha menghentikan ceritanya. “lantas apa masalahnya bukankah
itu baik” ucap Rian mendengar cerita Natasha. “jadi Ian kami kami hanya
berteman dan kami sudah berjanji hanya untuk berteman gak lebih dari itu. Tapi
seiring berjalannya waktu Temanku itu ternyata menginginkan aku bukan hanyja
sebatas teman. Akhirnya dia mengungkapkan perasaannya kepadaku, tapi aku tidak
mau menjalin hubungan selain pertemanan dengannya, karena memang kesepakatan
awalnya kami hanya berteman. Akhirnya aku tolak pernyataannya dia dengan banyak
pertimbangan dan disisi lain aku memang tidak menyukainya. Begitu dia tau
jawabanku dia mulai menjauhiku dan pertemanan kami mulai rusak. Aku harus gmana
Ian?” tanya Natasha dan meminta pendapat Rian. Rian pun yang mendengar
cerita Natasha menjadi sedikit bingung, sepertinya dia berfikir ini adalah
suatu permasalah yang sedikit rumit dan perlu kehati-hatian dalam menjawab
serta memberikan pendapat.
Beberapa menit mereka berdiam saling terlarut-larut dalam pikiran
masing-masing. Tiba-tiba “hemmmm ..” suara Rian memecahkan keheningan di
ruang tamu itu. “ini
merupakan situasi yang lumayan sulit, perlu kita ketahui bersama bahwa
pertemanan yang begitu erat akan memunculkan kenyamanan kedua belah pihak, jika
sudah seperti itu maka besar kemungkinan akan memicu timbulnya suatu rasa yang
melebihi rasa erat pertemanan yaitu rasa inin memiliki. Jika memang
kesepakaytan awalnya hanya sebatas pertemanan ya kalian seharusnya saling
komitmen untuk menjaga pertemanan itu jangan sampai pertemanan rusak hanya
gara-gara ‘Cinta’. Anggaplah itu semua rasa cinta.kalian harus memperbaiki
kembali” Imbuh Rian.
Mereka berdua kembali diam, Rian pun
menjadi cemas khawatir pendapatnya menyinggung perasaan Natasha. Tiba-tiba
Natasha mulai angkat bicara menghilangkan keheningan, “Ïan, andaikan dia
berfikiran kyak kamu mungkin pertemanan kami akan sehat sampai sekarang, dan
kami tidak akan renggang seperti saat ini” kata Natasaha dengan mata
berkaca-kaca. “HAhahahahahah kamu bisa saja Nat, mungkin aku klokn ada di
posisi temanmu itu juga akan mengalamihal yang sama jika pola pertemannya
begitu dekat dan menghasilkan kenyamanan”. Jawab Rian sambil tertawa
membuat Natasha jadi cemberut. “ahh dasar kamu Ian, aku serius malah di
anggap bercanda”ujar Natasha mendengar Rian tertawa. “gak kok aku gak nganggap
kamu bercanda, cuman aku merasa geli saat kamu memuji dengan kata andai dia
berpikiran kyak kamku mungkin pertemanan kami akan sehat sampai saat in itu
yang bikin aku tertawa” Tegas Rian. Natasa dengan wajah tetap cemberut dan
berkata “Ian, aku tidak ingin kejadian itu terjadi dalam pertemanan kita,
aku merasa nyaman berteman dengan mu, jadi jika ada kelakuan ku atau sikapku
yang membuatmu risih tegor aku ya”. . kata Natasha. “Okeyyyy… “ jawab
Ian meyakinkan Natasah.
Sekitar satu jam mereka berbincang-bincang
di ruang tamu rumah Natasah tiba-tiba Rian berkata “Eh Nat… sudah
siang nieaku segera kembali yak e tempat maganngku” ujar Rian sambil
melihat Jam tangannya yang memunjukkan hamper pukul setengna sebelas. “mau
kemana dah Ian, klok sampek sore kenapa?”
ajak Natasha agar rian tidak beranjak untuk cepat-cepat pulang “ahh
jangan Nat.. besok-bosok aku pasti maen-maen lagi kok ke sini” jawab Rian
dihiasi dengan senyuman di bibirnya. “awas kamu gak men ke sini lagi, tak
akan ku maafkan kau”. Kata Natasha penuh harap dengan pernyataan Rian
tersebut “OK santaian” jawab Rian
simple “ok daah”.
Akhirnya Rian pun keluar dari rumah Natasha
yang di ikuti Natasha dari belakang sampai halaman rumahnya. Rian pun menaiki
motor CB 100 kesayangannya dan dan melaju di atas Aspal jalanan. Natasha
memandang Rian dari belakang sampai menghilang di kejauhan sana.
Hari itu merupakan hari yang menyenangkan
bagi Natasha, karena dengan bertamunya Rian kerumahnya membuat dia bisa
mencurahkan segala kegelisahannya yang membuat dirinya sedikit lebih tenang. Selepas
kejadian itu Rian sering bertamu ke rumah Natasha dan pertemanan merekapun
menjadi semakin dekat. Natasha menemukan teman baru dan membuat dirinya
sedikit-demi sedikit mulai melupakan kisah sedih dengan teman lamanya.
BERSAMBUNG …….. …….