PageNavi Results Number

Natasha, Aku Takut Jatuh Cinta


Natasha, Aku Takut Jatuh Cinta
Park 1

 kring.... kring ..... kring .....” bunyi smartphone Rian yang mengusik tidur siangnya. “ahhhhh siapa sehhh siang-siang gini nelpon ? ganggu istirahatku aja”. Ngomel Rian yang merasa terganggu dengan suara smartphone genggamnya sambil menutup telpon seseorang. Namun, “kring.... kring.... kring......kring..” smartphonenya bunyi lagi. “ahhhhhhhh..... sialan banget nie orang orang siapa sehh?” Rian masih ngomel-ngomel sambil melihat kelayar smartphonenya dan ingin tahu siapa yang hendak mengganggu istirahat siangnya.
Betapa terkejutnya Rian ketika melihat nama Natasha yang muncul di layar smartphone genggamnya, lalu Rian pun buru-buru mengangkat teleponnya. “hallo Ian...?” suara wanita terdengar dari seberang sana. “kaukah itu Nat ?” tanya Rian kepada wanita di seberang sana.  Iya Ian, ini aku Natasha, masak kamu sudah lupa?”. Jaawab wanita itu. “mana mungkin aku bisa melupakan seorang teman se usil kamu Nat.” Jawab Rian. “Rian kamu ada di mana?” tanya Natasha lagi. “Aku masih ada luar kota nie. Ada tugas dari sekolah nie, ada apa kamu pasti rindu aku ya. Lantaran lama sekali kau tidak menemui aku” jawab rian dengan entengnya. “ahh PD mu ternyata tetap aja setinggi langit”. Jawab wanita di telpon itu. “hahahahah ada apa Nat ? ngomong dah” suara Rian sambil tertawa. “ahh gak jadi sudah... aku kira kamu ada di sini ternyata kamu jauh di sana. Aku ingin cerita sama kamu mungkin kamu bisa memberiku solusi atau apalah sehinga pikiranku sedikit lebih tenang” jawab natasha dengan nada lesu ketika mengetahui Rian teman dekatnya berada di luar kota. “kamu kapan pulang?” imbuhnya. “kurang tau masih ya, mungkin masih tinggal 2 minggu lagi, ada apa seh pentingkah?” tanya rian penasaran. “gak papa dah aku nunggu kamu balek aja wes” ucap natasha sambil memutuskan teleponnya. Rian semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan teman dekatnya itu.

Rian dan Natasha merupakan dua orang pelajar yang sudah kenal cukup akrab. Mereka berdua sama-sama anak rantau yang menimbah ilmu di kota Bandung. Rian merupakan seorang remaja berambut coklat asal Riau. Sedangkan Natasha pemilik senyuman manis berasal dari Sumatera namun Menetap di Bekasi bersama kedua orang tuanya dan satu adek perempuannya. Meraka berkenalan pertama kali sejak awal memasuki Perguruan Tinggi Negeri di Bandung tepatnya dua tahun yang lalu.
Akhir-akhir ini mereka berdua memang jarang ketemu. Pertama di  karenakan jurusan pendidikan yang mereka ambil berbeda, di tambah Rian mulai tahun kemarin pindah kontrakan. Sehingga kontrakan Rian dan rumahnya Natasha sedikit berjauhan. Apalagi dua bulan ini Rian di tugaskan dari sekolah untuk praktek ke luar kota, sehingga sangat kecil kemungkinan bagi mereka untuk bertemu.
Karawang merupakan tempat Rian di tugaskan praktek dari sekolahnya. Pasa saat itu Rian yang sedang duduk santai dengan teman sebayanya tiba-tiba teringat denga nada lesu Natasha di telepon tadi. Rasa penasaran yang yang berada di benak Rian semakin membesar. Akhirnya Rian memutuskan untuk menghubungi Natasha Via WhatsApp. Tetapi hari ini merupakan hari sial bagi Rian karena paketan data di smartphonenya habis sehingga dia tidak bisa menghubungi Natasha. Namun Rian teringat bahwa dia tidak lagi sendirian dia lagi bersama temannya yang bernama Zaen.
Berfikir sejenak akhirnya dia memulai pembicaraan dengan Zaen. “hei zaen yang manis” sebelum dia selesai berbicara tiba-tiba saja Zaen memotong ucapannya. “hemm baya sapaan yang ada maunya nih.. iya kan” tanya Zaen dengan nada sinis “ehh bukan gitu, paketanku habis nie. Aku ingin menghubungi temanku, boleh aku numpang tetring bentar gak?” pinta Rain yang sedikit memohon. “iya dah, nanti bayar tapi ya” jawab Zaen sambil bercanda. “ahh kamu memang temanku yang selalu ada saat aku membutuhkan pertolongan”. Jawab Rian dengan penuh kegembiraan.
Akhirnya setelah Rian bisa menghubungkan koneksi Internet atas bantuan Zaen dia mulai menghubungi Natasha dengan cara mengirim pesan via WhatsApp. “hay nat” pesan di kirimkan ke natasha. Tiba-tiba beberapa deti kemudian natasha menjawabnya “Ia Ian ada apa?”.  Rian pun bergegas membalas pesan dari Natasha “sepertinya kamu hendak ingin membicrakan sesuatu deh, dan kenapa suaramu begitu lesu juga? Ayok ngomong dah” balas Rian pada Natasha. Natasha pun membalasnya lagi “iya Ian sebenarnya aku pengen cerita-cerita sama kamu, tapi kamu mau gak ya dengerin aku bercerita tentang kehidupanku?”. “Iya mau lah Nat Kamu kan temanku” jawab Rian menyakinkan Natasha. “Tapi Ian aku lebih suka untuk berbicara secara langsung di depanmu, kamu gak bisa pulang tha kesini walaupun hanya sebentar?” elak Natasha. “tapi boleh gak aku maen ke rumahmu?” Rian balek bertanya pad natasha. “boleh kok, jadi kamu pulang?” jawab Natasha menggunakan smile tersenyum menandakan perasaannya senang membaca pesan dari Rian. “ok dah klok gitu mungkin besok aku kerumahmu” jawab Rian. “beneran ya Ian?, aku tunggu ya jam berapa” jawab Natasha dengan senang. “itu rahasia pokoknya kamu  besok seharian jangan kemana-mana ya” kata Rian. “Ok dah klok gitu aku besok akan menunggumu ya” jawab Natasha. “Ok,, uda dulu ya kita lanjut besok dah, aku gak ada paketan nie, numpang tetring aku sama temanku gak enak klok lama-lama. Byeee” balas Rian sambil memutuskan koneksi internetnya.
Keesokan harinya tepatnya pukul 07:00 WIB Rian teringat bahwa hari ini dia punya janji dengan Natasha untuk mendatangi rumahnya, diapun bergegas untuk bersiap-siap berangkat kerumah Natasha. Ada yang berbeda dari sikap dan tingkah laku Rian pagi itu. Rian begitu sangat bahagia sehingga menimbulkan pertanyaan bagi teman-teman yang melihatnya. “hoyy mau kemana kamu rapi bener nie, kyaknya mau bertemu seseorang nie?” Rian kaget mendengar suara Zaen dari arah pintu. Ternyata di depan pintu kamarnya berdiri dua orang temannya yang sedari tadi memperhatikan kelakuan Rian. “iyalah aku mau menemui seseorang hari ini, mau ikut kalian? Jawab  Rian sambil mengajak kedua temannya tersebut. “ahh gak mau lah, kamu mau jadiin aku nyamuk dan memperhatikanmu yang sedang kencan gitu? Jawab Hairul yang berdiri di samping Zaen. “buset,,,.. siapa yang mau kencan? Aku mau ke rumah temenku tauk.” Rian menyangkal tuduhan kedua temannnya itu. “iya dah klok gitu hati-hati di jalan, aku mau tetap disini” jawab zaen sambil meninggalkan Rian di kamarnya.
Rian pun keluar kamar langsung menuju garasi motor CB 100 kesayangannya. Dia membersihkan sedikit debu yang menempel di motor tersebut kemudian menyalakannya lalu melaju di atas Aspal hitam jalanan. Sekitar satu jam setengah berhentilah motor di depan rumah natasha. Rian pun turun dari motornya dan berjalan kedepan pintu sambil mengetoknya.
Tok.... tok..... tok... Rian sambil mengetok pintu menyapa pemilik rumah “permisi” beberapa detik kemudian terdengar suara dari dalam “iya... siapa?”. Ternyata suara Nataasha merespon panggilan Rian di depan pintu. Rian yang mengenal pemilik suara tersebut langsung menjawabnya “ini aku Nat.. rian”. Selesai menjawab pertanyaan Natasha, terlihatlah Natash yang sedang membuka pintu rumahnya. “kamu sendirian Ian” tanya Natasha. “Ia nie”  jawab Rian singkat. “oalah.... ayok masuk Ian” ajak Natasha sambil lalu di ikuti oleh Rian dari belakang.
Mereka berdua pun duduk-duduk di sofa rumah Natasha. “kamu tinggal berapa hari lagi di sana Ian”  Tanya Natasha membuka pembicaraan. “mungkin dua minggu lagi Nat” jawab Rian. “oalah masih lama ya, sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku ceritakan sama kamu Ian, ini masalahku” kata Natasha sedikit layu mendengar jawaban yang Rian masih lama di tempat magangnya “iya cerita aja dah nat, aku mau kok mendengarkan curhatanmu” jawab Rian sambil terukir senyum dibibir Natasha mendengar pernyataan Rian yang siap mendengarkan curhatannya.
Natasha pun mengambil Nafas panjang seolah-olah cerita yang hendak di sampaikan berat baginya. “jadi gini Ian ... aku dulu punya teman cowok, mungkin dia adalah teman pertamaku ketika aku mulai masuk di sekolah ini. Akupun berteman dengannya sangat dekat, kami juga sering ngerjakan tugas bareng”. Natasha menghentikan ceritanya. “lantas apa masalahnya bukankah itu baik” ucap Rian mendengar cerita Natasha. “jadi Ian kami kami hanya berteman dan kami sudah berjanji hanya untuk berteman gak lebih dari itu. Tapi seiring berjalannya waktu Temanku itu ternyata menginginkan aku bukan hanyja sebatas teman. Akhirnya dia mengungkapkan perasaannya kepadaku, tapi aku tidak mau menjalin hubungan selain pertemanan dengannya, karena memang kesepakatan awalnya kami hanya berteman. Akhirnya aku tolak pernyataannya dia dengan banyak pertimbangan dan disisi lain aku memang tidak menyukainya. Begitu dia tau jawabanku dia mulai menjauhiku dan pertemanan kami mulai rusak. Aku harus gmana Ian?” tanya Natasha dan meminta pendapat Rian. Rian pun yang mendengar cerita Natasha menjadi sedikit bingung, sepertinya dia berfikir ini adalah suatu permasalah yang sedikit rumit dan perlu kehati-hatian dalam menjawab serta memberikan pendapat.
Beberapa menit mereka berdiam saling terlarut-larut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba “hemmmm ..” suara Rian memecahkan keheningan di ruang tamu itu. “ini merupakan situasi yang lumayan sulit, perlu kita ketahui bersama bahwa pertemanan yang begitu erat akan memunculkan kenyamanan kedua belah pihak, jika sudah seperti itu maka besar kemungkinan akan memicu timbulnya suatu rasa yang melebihi rasa erat pertemanan yaitu rasa inin memiliki. Jika memang kesepakaytan awalnya hanya sebatas pertemanan ya kalian seharusnya saling komitmen untuk menjaga pertemanan itu jangan sampai pertemanan rusak hanya gara-gara ‘Cinta’. Anggaplah itu semua rasa cinta.kalian harus memperbaiki kembali” Imbuh Rian.
Mereka berdua kembali diam, Rian pun menjadi cemas khawatir pendapatnya menyinggung perasaan Natasha. Tiba-tiba Natasha mulai angkat bicara menghilangkan keheningan, “Ïan, andaikan dia berfikiran kyak kamu mungkin pertemanan kami akan sehat sampai sekarang, dan kami tidak akan renggang seperti saat ini” kata Natasaha dengan mata berkaca-kaca. “HAhahahahahah kamu bisa saja Nat, mungkin aku klokn ada di posisi temanmu itu juga akan mengalamihal yang sama jika pola pertemannya begitu dekat dan menghasilkan kenyamanan”. Jawab Rian sambil tertawa membuat Natasha jadi cemberut. “ahh dasar kamu Ian, aku serius malah di anggap bercanda”ujar Natasha mendengar Rian tertawa. “gak kok aku gak nganggap kamu bercanda, cuman aku merasa geli saat kamu memuji dengan kata andai dia berpikiran kyak kamku mungkin pertemanan kami akan sehat sampai saat in itu yang bikin aku tertawa” Tegas Rian. Natasa dengan wajah tetap cemberut dan berkata “Ian, aku tidak ingin kejadian itu terjadi dalam pertemanan kita, aku merasa nyaman berteman dengan mu, jadi jika ada kelakuan ku atau sikapku yang membuatmu risih tegor aku ya”. . kata Natasha. “Okeyyyy… “ jawab Ian meyakinkan Natasah.
Sekitar satu jam mereka berbincang-bincang di ruang tamu rumah Natasah tiba-tiba Rian berkata “Eh Natsudah siang nieaku segera kembali yak e tempat maganngku” ujar Rian sambil melihat Jam tangannya yang memunjukkan hamper pukul setengna sebelas. “mau kemana dah Ian, klok sampek sore kenapa?”  ajak Natasha agar rian tidak beranjak untuk cepat-cepat pulang “ahh jangan Nat.. besok-bosok aku pasti maen-maen lagi kok ke sini” jawab Rian dihiasi dengan senyuman di bibirnya. “awas kamu gak men ke sini lagi, tak akan ku maafkan kau”. Kata Natasha penuh harap dengan pernyataan Rian tersebut “OK santaian”  jawab Rian simple “ok daah”.
Akhirnya Rian pun keluar dari rumah Natasha yang di ikuti Natasha dari belakang sampai halaman rumahnya. Rian pun menaiki motor CB 100 kesayangannya dan dan melaju di atas Aspal jalanan. Natasha memandang Rian dari belakang sampai menghilang di kejauhan sana.
Hari itu merupakan hari yang menyenangkan bagi Natasha, karena dengan bertamunya Rian kerumahnya membuat dia bisa mencurahkan segala kegelisahannya yang membuat dirinya sedikit lebih tenang. Selepas kejadian itu Rian sering bertamu ke rumah Natasha dan pertemanan merekapun menjadi semakin dekat. Natasha menemukan teman baru dan membuat dirinya sedikit-demi sedikit mulai melupakan kisah sedih dengan teman lamanya.
BERSAMBUNG …….. …….

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel