Individualisme dan Apatisme Sosial
Saturday, 8 December 2018
Pesatnya perkambangan
teknologi yang semakin hari semakin melesat dapat kita rasakan pada diri
sendiri saat ini. Dunia teknologi dan informasi hari ini dapat memudahkan para
penggunanya untuk saling berkomunikasi dengan yang lainnya tanpa mengenal batas
ruang dan waktu. Pada hari ini pula untuk menyambung komunikasi dan tali
silaturrahmi dengan sanak famili atau pun teman-teman yang jauh di sana, dapat
kita lakukan dengan cara yanng sangat mudah, hanya bisa dengan cara duduk
sambil menikmati secangkir kopi di ruang tamu. Layaknya dunia yang dilipat.
Terjangan
arus modernisasi yang salah satu contohnya dapat diketahui dengan
ketergantungan seseorang pada alat teknologi yang mampu menggiring penggunanya
kepada situasi dan kondisi hyper reality.
Kondisi seperti inilah yang mampu memanipulasi seseorang untuk bersifat
apatis sosial yang sangat kontradiktif dengan sifat manusia sejati (makhluk
sosial). Pada situasi seperti ini sangatlah berbahaya jika sifat apatis sosial
melekat pada diri seorang pemuda-pemudi sebagai generasi penerus bangsa
mengingat manusia adalah makhluk sosial dan manusia juga butuh dengan
lingkungan sekitar untuk memenuhi kehidupannya. Apa dampak dari semua itu? Yang
pertama, hilangnya interaksi sosial
pada diri pengguna. Sering kali kita ketahui semua bahwa kebanyakan dari
orang-orang pengguna teknologi menjadi sangat malas untuk saling tegur sapa
didunia nyata. Mereka selalu beranggapan bahwa kallimat atau ucapan sapaan
kepada orang lain dapat terejawantahkan melalui kecanggihan teknologi tanpa
bersusah payah untuk bertegur sapa di dunia nyata.
Kedua adalah
kerancuan dalam berkomunikasi, dampak yang kedua ini sering kita temui setiap
hari. Bagi mereka yang memiliki ketergantungan lebih terhadap teknologi, untuk
menyampaikan pesan mereka lebih suka untuk menyampaikannya secara tertulis
(misal: via sms, chat dll). Hal tersebut semakin memperburuk pola komunikasi
sehingga kerancuan dalam komunikasi dapat terjadi. Semua itu disebabkan karena
terlalu seringnya berkomunikasi lewat dunia maya dan terlalu sedikit
berkomunikasi di dunia nyata sehingga membuat penggunanya menjadi malas untuk
memperbaiki pola komunikasinya.
Ketiga
hilangnya rasa kepedulian terhadap keadaan sekitar. Kita sering menemui dampak
yang ketiga ini ketika lagi asik berkumpul bersama teman-teman. Dikala kita
sedang berkumpul kita kadang menemui seseorang yang lebih cenderung untuk fokus
kepada barang yang di pegang (gadget). seolah-olah pengguna gadget tersebut
tidak memperhatikan teman yang duduk di sampingnya dan lebih mementingkan
seseorang yang ada di dalam gadget tersebut maka muncullah sebuah istilah
“menjauhkan yang dekat”.
Dari ketiga dampak tersebut dapat kita reka-reka betapa
sangat berbahaya teknologi jika tidak di gunakan dengan semestinya. Menyalah
gunakan teknologi canggi pada hari ini akan membuahkan penyesalan di kemudian
hari dan menimbulkan sikap dan sifat yang tidak seharusnya melekat pada diri
seorang pemuda apalagi pemuda penerus pimpinan bangsa. Semisal dampak yang bisa
saja melekat pada dirinya adalah: apatis
sosial, lemahnya berkomunnikasi secara langsung, cenderung individualisme, dll.
Sifat-sifat tersebut sangatlah merugikan bagi kita, semisal jika kita aptis
terhadap keadaan maka lambat laun kita juga akan di acuhkan oleh keadaan
sekitar. Lantas kepada siapakah kita akan meminta pertolongan ketika kesulitan
sedang menimpa kita? Orang-orang di sekitar kita kah? Tidak mungkin karena kita
terlalu individualisme dan tidak pernah memperhatikan keadaan sekitar.
Bagaimanakah orang lain akan memperhatikan kita..?
Sikapmu
menentukan sikap orang lain terhadapmu