Asal Usul Tradisi Halal Bi Halal Menurut Gubernur DKI Jakarta
![]() |
| H. Anis Rasyid Baswedan |
Penjelasan tersebut sebagaimana dalam video berdurasi 2 menit 22 detik yang dirilis oleh kanal Youtube TVNU Nahdlatul Ulama, Senin (02/05).
“Oleh para Muassis Nahdlatul Ulama ibadah Idul Fitri ini mengalami transendensi. Bukan lagi pada level individual tapi juga kebangsaan,” katanya.
Anis Baswedan, sapaan akrabnya, juga menguraikan sebuah kisah tentang proklamator Indonesia yang meminta saran kepada salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Wahab Hasbullah.
“Kalau tidak salah pada 1948. Ketika Indonesia baru merdeka, dilanda ketegangan antar kelompok politik bahkan ada ancaman pemberontakan, Bung Karno meminta saran kepada KH. Wahab Hasbullah untuk mengatasi situasi politik yang saat itu sedang memanas,” ungkapnya.
Menanggapi pertanyaan tersebut, lanjut Anies, KH. Wahab Hasbullah mengusulkan kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahmi.
“Apalagi pada saat itu menjelang Idul Fitri. Waktu itu Bung Karno menjawab, silaturahmi sudah biasa. Saya ingin istilah lain,” lanjut Anies.
Menurut Anies, yang menarik pada KH. Wahab Hasbullah pada waktu itu adalah Mbah Wahab langsung memiliki jawaban dan jawaban tersebut menurutnya adalah jawaban yang cerdas dan jitu.
“Beliau menjawab, elit politik tidak mau bersatu karena saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu dosa. Dosa itu haram,” ujarnya.
“Supaya mereka tidak punya dosa, tidak haram, maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk satu meja, saling memaafkan, saling menghalalkan. Jadi, nanti silaturahminya diganti namanya. Jadi Halal Bi Halal,” lanjutnya.
Masih menurut Anies, jawaban Mbah Wahab Hasbullah kepada Bung Karno tersebut adalah sebuah jawaban dan solusi yang sampai hari ini dijadikan tradisi.
“Itu sebuah contoh mempertemukan kaidah hukum Islam denhan konteks kekinian dan itu memerlukan kecerdasan, memerlukan samudera wawasan, kemapanan,” katanya, menguraikan.
Atas kecerdasan dan terobosan para muassis Nahdlatul Ulama tersebut, tambah Anies, sampai saat ini tradisi Halal Bi Halal terus melekat dalam diri masyarakat.
“Disinilah sebuah kecerdasan terobosan dari para muassis, ulama Nahdlatul Ulama sehingga terus menghidupkan nilai-nilai spiritual dalam ruang-ruang yang dinamis,” lanjutnya.
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa tradisi dan pemikiran muassis atau ulama Nahdlatul Ulama tidak meninggalkan hal sosial.
“Praktek keagamaan yang tidak menanggalkan perspektif sosial, dicontohkan dalam tradisi dan pemikiran NU,” ungkapnya.
Terakhir, Anies menilai perjumpaan antara proklamator kemerdekaan Indonesia, Bung Karno dan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, Mbah Wahab Hasbullah merupakan teladan baik bagi umat Islam untuk dicontoh.
“Pertemuan tokoh ini merupakan teladan bagi kita agar kita tidak enggan untuk saling menyapa untuk saling mendengar walaupun belum tentu berpandangan yang sama,” pungkasnya. (Mls)
