Kerukunan umat beragama
KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI DESA GLAGAH WERO
(STUDI HUBUNGAN ANTAR UMAT ISLAM, KONG HU CHU, HINDU, DAN BUDHA)
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Agama
yang dibimbing oleh Bapak H. Zainul Fanani, M. Ag.
Laporan
Oleh :
NITA KURNIAWATI D20161059
GUFRON AFANDI D20161070
FUJI TIAS HARI WINARNO D20161055
SUMIATI D20161058
MUHAMMAD NURUL YAQIN D20161081
MUHAMMAD SYAIFUL AMIN D20161051
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER
FAKULTAS DAKWAH
PRODI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
Mei 2018
ABSTRAK
Di desa Glagah wero Kecamatan Panti Kabupaten Jember terdapat miniatur kerukunan antar umat beragama. Di tengah kemajemukan masyarakat dalam perbedaan keyakinan agama ternyata mampu membangun sikap untuk saling menghormati antar pemeluk agama. Dengan kondisi sosial itulah yang menjadikan ketertarikan penulis untuk melakukan penelitian tentang Kerukunan antar Umat Beragama di Desa Glagah wero (Studi Hubungan antar Umat Islam, Kong Hu Cu, Thong, Hindu dan Buddha) Penulis melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pandangan tokoh agama dan pembinaan kerukunan antar umat beragama di Desa Glagah wero. Metode penelitian adalah dengan menentukan jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat kualitatif. Tempat di Desa Glagah wero Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Subyek penelitian atau informan yaitu orang-orang yang memberikan informasi secara langsung tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Dalam hal ini yang menjadi informan yaitu masyarakat di Desa Glagah wero khususnya tokoh agama maupun Pemerintah Desa Glagah wero. Metode pengumpulan data dengan observasi, interview dan dokumentasi. Metode analisis data, pertama, penulis akan membaca, mempelajari, dan menelaah data yang penulis dapatkan dari hasil wawancara dan hasil observasi yang terkumpul serta data-data lainya. kedua, mengadakan reduksi data secara keseluruhan dari data yang telah dibaca, dipelajari, dan ditelaah agar dapat dikategorikan sesuai tipe masing-masing data. Setelah proses tersebut, maka penulis mengajukan dalam bentuk laporan atau hasil yang diperoleh dari hasil penelitian tersebut secara deskriptif analisis, yaitu penyajian dalam bentuk tulisan yang menerangkan apa adanya sesuai dengan yang diperoleh dari penelitian Hasil dari penelitian adalah Pandangan tokoh agama Desa Glagah wero tentang kerukunan antar umat beragama adalah hal penting, dimana dalam kemajemukan di masyarakat yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama sangat rentan terjadi gesekan.
Kata kunci: Kerukunan antar Umat Beragama, di Desa Glagah wero, Studi Hubungan antar Umat Islam, Kong Hu Cu, Thong, Hindu dan Buddha.
BAB II
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Kerukunan umat beragama adalah hal yang sangat penting untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup di negeri ini. Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki keragaman yang begitu banyak. Tak hanya masalah adat istiadat atau budaya seni, tapi juga termasuk agama. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari beragam agama. Kemajemukan yang ditandai dengan keanekaragaman agama itu mempunyai kecenderungan kuat terhadap identitas agama masing- masing dan berpotensi konflik. Indonesia merupakan salah satu contoh masyarakat yang multikultural. Multikultural masyarakat Indonesia tidak saja kerena keanekaragaman suku, budaya, bahasa, ras tapi juga dalam hal agama. Agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia adalah agama Islam, Kong Hu Cu, Thong, Hindu, Buddha dan Kong Hu Chu.
Dari agama-agama tersebut terjadilah perbedaan agama yang dianut masing-masing masyarakat Indonesia. Dengan perbedaan tersebut apabila tidak terpelihara dengan baik bisa menimbulkan konflik antar umat beragama yang bertentangan dengan nilai dasar agama itu sendiri yang mengajarkan kepada kita kedamaian, hidup saling menghormati, dan saling tolong menolong. Dengan gambaran di atas dan berangkat dari suatu hal menarik untuk diketahui, bahwa ada satu daerah tepatnya di Desa Glagah wero, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Di desa tersebut terdapat pemeluk agama Islam, Kong Hu Cu, Thong, Hindu dan Buddha. Di tengah kemajemukan masyarakat dalam perbedaan keyakinan agama ternyata mampu membangun sikap untuk saling menghormati antar pemeluk agama. Dengan kondisi sosial itulah yang menjadikan ketertarikan penulis untuk melakukan penelitian tentang “Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Glagah wero”(Studi Hubungan Antar Umat Islam, Kong hu chu, Thong, Hindu dan Buddha).
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pandangan masyarakata non Islam mengenai kerukunan umat beragama?
Bagaimana pendapat masyarakat di Desa Glagah Wero dengan adanya Klenteng?
Bagaiman pandangan tokoh Agama engenai kerukunan antar umat beragama?
Apa manfaat kerukunan antar umat beragama
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Untuk mengetahui bagaimana pandangan masyarakata non Islam mengenai kerukunan umat beragama
Untuk mengetahui bagaimana pendapat masyarakat di Desa Glagah Wero dengan adanya Klenteng
Untuk mengetahui bagaimana pandangan tokoh Agama engenai kerukunan antar umat beragama
Untuk mengetahui manfaat kerukunan antar umat beragama
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat kualitatif. Dengan menggunakan metode kualitaif akan menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari sejumlah orang dan perilaku yang dapat diamati. Menggunakan penelitian kualitatif tujuanya untuk mendapatkan data mendalam dan data yang mengandung makna dalam hal memahami interaksi antar agama dan masyarakat.
Tempat di Desa Glagah wero, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Subyek penelitian atau informan yaitu orang-orang yang memberikan informasi secara langsung tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Dalam hal ini yang menjadi informan yaitu masyarakat di Desa Glagah wero khususnya tokoh agama maupun Pemerintah Desa Glagah wero. Ketertarikan penulis untuk melakukan penelitian terhadap tema ini karena beberapa alasan. Pertama, mengetahui lokasi di Desa Glagah wero, terdapat masyarakat yang plural terdiri dari lima agama yaitu, Islam, Kong Hu Cu, Thong, Hindu dan Buddha. Kedua, terdapat dua tempat ibadah yaitu Masjid dan Klenteng yang letaknya berdekatan. Ketiga, kegiatan masyarakat yang ada di lokasi tersebut dilakukan secara gotong royong tanpa membedakan agama. Hal ini akan menjadi perhatian menarik karena tercipta hubungan selaras antar umat beragama.
Metode pengumpulan data dengan observasi adalah suatu pengamatan yang khusus dan pencatatan yang sistematis ditujukan pada satu atau beberapa masalah dalam rangka penelitian, dengan maksud mendapatkan data yang diperlukan untuk pemecahan persoalan yang dihadapi. Dalam hal ini untuk mendapatkan data yang diinginkan penulis melakukan pengamatan pada masyarakat Desa Glagah Wero. Adapun langkah yang akan dilaksanakan adalah dengan invention, yaitu melakukan observasi secara menyeluruh terhadap interaksi masyarakat yang terjadi di Desa Glagah Wero, melacak penelitian terdahulu yang sudah pernah dilakukan, dan mencatat semua fenomena yang berhubungan dengan objek penelitian yang ditemui dilapangan. Metode Interview adalah metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab yang dilaksanakan secara teratur dan sistematis. Interview tersebut juga akan dilakukan secara mendalam (In-depth interview) yang bertujuan untuk mendapatkan keterangan dan informasi secara lisan dari informan. Interview dilakukan penulis dengan tokoh- tokoh agama Islam, Kong Hu Cu, Thong, Hindu dan Buddha, tokoh-tokoh masyarakat, dan beberapa warga masyarakat di Desa Glagah Wero.
Metode Dokumentasi adalah pencarian data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, jurnal, dan sebagainya. Dengan dokumen ini dapat diperoleh data monografi serta demografi penduduk, guna memenuhi kelengkapan penulis laporan penelitian tentang gambaran umum wilayah objek penelitian.
Metode analisis data, pertama, penulis akan membaca, mempelajari, dan menelaah data yang penulis dapatkan dari hasil wawancara dan hasil observasi yang terkumpul serta data-data lainya. Kedua, mengadakan reduksi data secara keseluruhan dari data yang telah dibaca, dipelajari, dan ditelaah agar dapat dikategorikan sesuai tipe masing-masing data. Setelah proses tersebut, maka penulis mengajukan dalam bentuk laporan atau hasil yang diperoleh dari hasil penelitian tersebut secara deskriptif analisis, yaitu penyajian dalam bentuk tulisan yang menerangkan apa adanya sesuai dengan yang diperoleh dari penelitian.
BAB II
PEMBAHASAN
Pandangan Masyarakata non-Islam Mengenai Kerukunan Umat Beragama
Mengenai pandangan tentang Kerukunan umat beragama Gunawan selaku Tokoh Agama Kristen Katolik dan merupakan salah satu pengurus di Klenteng Pay Lien San Glagah wero selama beliau lahir dan besar di desa Glagah wero sejak dahulu sudah terjalin dengan baik.
Menurut beliau dengan pengalaman sehari-harinya selalu berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda agama. Dalam bertetangga pun beliau bersebelahan dengan pemeluk Islam dan Katolik. Dan tidak pernah terjadi persoalan dalam kerukunan bermasyarakat. Sebagai salah satu yang merancang pendirian Klenteng Pay Lien San Glagah wero, beliau menyampaikan saat mengawali dan mendirikan Klenteng tidak terjadi penolakan di masyarakat, kesadaran dalam menghormati perbedaan merupakan suatu cerminan kedewasaan yang sudah lama terjalin dari para sesepuh di desa Glagah wero. Kerukunan antar umat beragama berangkat dari rasa cinta kasih yang ada pada manusia sebagai wujud bahwa manusia hidup untuk saling menghormati antar sesama. Gunawan menyampaikan kondisi kerukunan antar umat beragama di Desa Glagah wero berlangsung kondusif dari dulu saat pertama kali tinggal di Desa Glagah wero hingga kini.
Gunawan memberikan keterangan bahwa beliau berpandangan kerukunan antar umat beragama harus dijalankan oleh semua umat beragama dengan baik. Sebagai umat Hindu mengejawantahkan dharma dalam kehidupan adalah mampu bekerjasama dengan siapapun dalam kebaikan.
Dalam usianya yang sudah 88 tahun, Gunawan menyampaikan sejak belaiu tinggal di Desa Glagah wero tahun 1967 kondisi masyarakat baik dan kerukunan antar umat beragama tumbuh dan berkembang.
Di kalangan internal umat Kristen Katolik, Gunawan yang aktif di Klenteng Pay Lien San Glagah wero menyampaikan bahwa dalam agama Kristen Katolik terdapat pula banyak persekutuan yang berbeda-beda. Umat Kristen Katolik tidak semuanya menjadi Jemaat di Klenteng Pay Lien San. Walaupun beda persekutuan, untuk masalah komunikasi dengan Jemaat lainnya dilakukan dengan baik untuk memonitor jika ada hal-hal yang berpotensi pemecah di internal umat Kristen Katolik sendiri. Dalam pembinaannya tentang kerukunan antar umat bergama sering disampaikan kepada jemaatnya saat kebaktian di Klenteng. Untuk umat Katolik dalam pembinaan kerukunan di kalangan internal umatnya menurut Yulius Yacobus Sulistiyo selalu dilakukan saat kegiatan-kegiatan yang ada di Glagah wero.
Pembinaan kerukunan antar umat beragama di Desa Glagah wero bukan hanya tanggung jawab dari Pemerintah Desa dan tokoh agama namun peran masyarakat Desa Glagah wero adalah hal yang juga utama. Membangun sinergi dalam kehidupan yang majemuk adalah upaya dari ketiganya dalam rangka penguatan kerukunan antar umat beragama. Pemerintah Desa Glagah wero selalu siap untuk menjadi media jika ada persoalan yang mengancam terjadinya konflik antar umat beragama.
Desa Glagah wero memiliki pemeluk agama Islam sebagai mayoritas yang hidup berdampingan dengan pemeluk agama Kong Hu Cu, Thong, Hindu dan Buddha. Walaupun demikian, hal tersebut tidak menjadikan wilayah Desa Glagah wero rawan konflik antar umat beragama. Masing-masing dari setiap pemeluk agama memiliki sikap saling terbuka dan menerima keberadaan dari agama lain. Adanya keanekaragaman beragama yang ada di Desa Glagah wero, tidak membuat hubungan interaksi antara warga Glagah wero menjadi renggang dan kaku, justru hal tersebut membuat keindahan tersendiri yang dapat dilihat didalam pola interaksi bermasyarakat warga Desa Glagah wero.
Dalam melakukan kegiatan yang bersifat sosial, masyarakat Desa Glagah wero tidak memandang identitas agama dan kelompok. mayoritas ataupun minoritas. Mereka selalu menanamkan rasa persaudaraan yang sangat kuat dan menjunjung tinggi sikap gotong-royong sebagai tradisi yang sudah turun temurun dari para pendahulu. Masing-masing umat beragama yang ada di Desa Glagah wero bisa menjalankan ajaran agamanya masing-masing, baik ajaran ajaran ritual perorangan, kelompok, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan masyarakat yang secara nyata membentuk interaksi sosial yang harmonis serta komunikasi sosial selalu terjadi antara pemeluk agama yang berbeda melalui forum dialog yang diadakan atas inisiatif para tokoh agama yang didukung oleh Pemerintah Desa dan semua elemen masyarakat. Masyarakat Desa Glagah wero memandang bahwa perbedaan keyakinan untuk memeluk salah satu agama adalah urusan individu dengan Tuhan.
Pendapat Masyarakat di Desa Glagah Wero dengan Adanya Klenteng
Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan warga masyarakat Desa Glagah Wero, mereka tidak mempermasalahkan adanya Klenteng. Keberagaman di Desa Glagah Wero menciptakan sebuah toleransi yang kuat diantara mereka. Toleransi di buktikan ketika terjadinya penolakan dari masyarakat muslim di luar Glagah Wero dengan adanya Klenteng. Masyarakat muslim Glagah Wero ikut melindungi Klenteng tersebut, karena sikap toleransi mereka sangat besar terhadap pihak Klenteng dan masyarakat muslim Glagah Wero tidak merasa di rugikan dengan adanya Klenteng, pihak Klenteng pun menghormati kepada masyarakat muslim Glagah Wero. Bentuk penghormatan pihak Klenteng terhadap masyarakat muslim Glagah Wero terlihat ketika pihak Klenteng ikut membantu dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang di lakukan oleh masyarakat muslim Glagah Wero.
Pandangan Tokoh Agama Mengenai Kerukunan antar Umat Beragama
Dari hasil wawancara dengan Kepala Desa Glagah wero yaitu Luthfi, ketika penulis menanyakan tentang kerukunan umat beragama, disampaikan bahwa selama tinggal sejak tahun 1971 di Desa Glagah wero, kondisi sosial masyarakat secara umum berjalan kondusif, dan itu memang sudah seharusnya terjadi. Menurut Luthfi memeluk suatu agama adalah hak individu manusia dan kita harus menghormati pilihan masyarakat. Pemerintah Desa menyelenggarakan kegiatan seperti musyawarah dengan mengundang dari RT/RW, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama dalam rangka menjalin komunikasi dan koordinasi untuk selalu memonitor kondisi masyarakatnya. Luthfi yang saat ini menjabat dua periode sebagai Kepala Desa Glagah wero menaruh harapan, semoga dimasa depannya nanti kondisi kerukunan antar umat beragama yang sudah terjalin erat di masyarakat kualitasnya semakin baik. Karena tantangan masa depan dengan pertumbuhan penduduk yang semakin banyak cenderung bertambahnya masalah baru.
H. Abdul Halim selaku tokoh agama Islam menyampaikan pandangannya tentang kerukunan umat bergama di Desa Glagah wero, bahwa kondisi yang sudah berjalan cenderung kondusif. Hingga saat ini beliau adalah Takmir Masjid Al Barokah yang letaknya berdekatan dengan Klenteng Pay Lien San. Para Tokoh Agama khususnya beliau dan dari pihak Klenteng membangun komunikasi aktif dengan selalu berkoordinasi disaat kedua tempat ibadah memiliki agenda kegiatan masing-masing. Misalnya peribadatan bagi umat Islam dalam menjalankan sholat berjamaah, majelis taklim/pengajian rutin dan Perayaan Hari Besar Islam, sedangkan di Klenteng dengan agenda kegiatan Imlek dan Cap Go Meh berjalan lancar dan tanpa merasa terganggu. Kesadaran seperti inilah yang seharusnya ditumbuhkan, dipupuk dan dijaga.
Keyakinan adalah hak asasi manusia yang harus dihormati bersama-sama. Kebebasan dalam hal memeluk agama sangat dijunjung tinggi, serta perbedaan agama tidak menjadi jurang pemisah yang suram bagi mereka dalamberinteraksi antar pemeluk agama yang berbeda. Seperti yang terlihat antara tiga tokoh agama Islam (H. Abdul Halim), tokoh agama Kristen Katolik (Gunawan) dan tokoh agama Katolik (Yulius Yacobus Sulistiyo) mereka hampir setiap hari bertemu dikarenakan rumahnya yang bergandengan dan ketiganya menjadi panutan masyarakat kampung dan Desa Glagah wero jika ada hal-hal yang berkaitan dengan urusan keagamaan masing-masing. Dalam kehidupan bertetangga ini mereka selalu mencerminkan hubungan yang baik dan sikap persahabatan dan memberikan contoh yang baik sehingga menciptakan kehidupan masyarakat dan bertetangga yang harmonis Bukan sesuatu yang mudah tanpa didasari oleh kesadaran dari masing-masing pihak untuk benar-benar mengutamakan pentingnya mewujudkan kerukunan di masyarakat yang majemuk.
Dialog yang bersifat informal antar pemuka agama sering berlangsung, yang mana mereka mengakomodir segala bentuk permasalahan yang berkembang di masyarakat, terlebih lagi mereka membina pemeluk agamanya masing-masing. Meskipun perbedaan agama merupakan titik rawan dan hal yang cukup potensial bagi terjadinya konflik, namun selagi kerjasama antar umat berbeda agama tersebut tetap terpelihara, dan para anggotanya merasa kebutuhannya terpenuhi, serta merasa diperlakukan secara adil tanpa mendapat perlakuan yang berbeda dalam kerja sama tersebut, dan setiap para anggotanya konsensus untuk tetap mematuhi nilai dan norma yang disepakati bersama maka kerukunan hidup antar umat berbeda agama akan tetap terpelihara dan konflik antar umat berbeda agama tidak akan pernah terjadi. Desa Glagah wero terdapat berbagai ragam agama yang mendiami wilayah itu.
Hal ini perlu dilahat bagaimana pola interaksinya yang tidak hanya melibatkan jajaran masyarakat penganut agamanya, melainkan keterlibatan tokoh-tokoh agama, organisasi kemasyarakatan maupun pemerintahannya yang begitu hidup dalam mewujudkan keteraturan masyarakatnya. Pertanyaan yang muncul dalam konteks keberagaman ini, bagaimana perbedaan dari setiap ajaran agama tersebut justru yang timbul adalah keharmonisan. Kita akui bahwasanya dalam konsep kerukunan antara umat beragama semua menginginkan hidup bersama dalam perbedaan, tetapi produk dari ajarannya secara absolutis banyak bertentangan.Karena memang pada prinsipnya, semua agama akan berbeda jika dilihat dari kontek ajaran akidahnya. Namun semua agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kesempurnaan, keutamaan, baik yang menyangkut kehidupan orang seorang maupun kehidupan bersama dan kemasyarakatan. Dengan demikian usaha-usaha untuk meningkatkan dan meratakan kesadaran beragama bagi pemeluk agama agar mereka masing-masing benar-benar menjadi insan beragama seperti diajarkan agamanya. Jadi sebenarnya pembinaan kerukunan hidup antara umat beriman harus dimulai dengan penyadaran, mengapa orang beragama. Kalau orang sungguh-sungguh secara konsekuen, jujur untuk mengabdi Tuhan, maka sikap terhadap sesamanya pasti juga akan dijiwai oleh semangat keagamaannya. Maka kerukunan merupakan perwujudan dari penghayatan iman, perwujudan dari pengabdian kepada Tuhan, sebab setiap agama mengajarkan kedamaiaan.
Manfaat Kerukunan antar Umat Beragama
Dapat terhindar dari adanya perpecahan antar umat beragama
Setiap orang sudah sepatutnya untuk menanamkan di dalam dirinya sifat toleran, serta menerapkannya di dalam kehidupan bersosial masyarakat, terutama di daerah yang di dalamnya terdapat berbagai jenis kepercayaan atau agama. Sikap toleransi antar umat beragama merupakan salah satu solusi untuk mengatasi terjadinya perpecahan di antara umat dalam mengamalkan agamanya.
Sebagai contoh sikap toleransi antar umat beragama bisa kita lihat di negara kita ini, yaitu Indonesia yang memiliki lebih dari satu agama dan kepercayaan. Jika toleransi antar umat beragama tidak tertanam di dalam pribadi masing-masing warga negara Indonesia, maka kemungkinan besar negara ini akan terpecah belah dan tidak akan bertahan lama.
Dapat mempererat tali silaturahmi
Manfaat toleransi antar umat beragama berikutnya adalah terjalinnya tali silaturahmi. Pada umumnya, adanya suatu perbedaan selalu menjadi alasan terjadinya pertentangan antara orang (golongan) yang satu dengan lainnya, khususnya bagi mereka yang tidak bisa menerima adanya perbedaan tersebut. Salah satu contoh adalah adanya perbedaan agama yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya berbagai konflik serta pertikaian di antara sesama manusia, seperti tindakan terorisme, pembantaian pemuka agama, dan lain sebagainya yang pada akhirnya akan mengakibatkan dampak pada timbulnya kesengsaraan bagi manusia lainnya.
Lalu bagaimanakah solusi agar itu semua dapat dihindari? Solusinya adalah menumbuhkan kesadaran dalam diri masing-masing orang tentang pentingnya rasa saling menghormati dan menghargai guna merajut hubungan damai antar penganut agama. Dan jika hubungan damai telah terwujud maka tali silaturahmi antar pemeluk agama pun dapat terjalin dengan baik, bahkan lebih erat.
Jika sudah begitu maka cita-cita bangsa untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan di tengah-tengah banyaknya perbedaan akan dapat terwujud, dan itu akan menjadikan sebuah negara yang lebih kuat dan kokoh dalam menghadapi ancaman apapun. (baca juga: pengertian ukhuwah islamiyah insaniyah dan wathaniyah)
Pembangunan Negara akan lebih terjamin dalam pelaksanaannya
Faktor keamanan, ketertiban, persatuan dan kesatuan dari sebuah negara merupakan salah satu kunci sukses menuju keberhasilan program-program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintahan di negara tersebut.
Terjadinya kerusuhan, pertikaian, dan segala bentuk bencana baik bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Kejadian-kejadian tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap jalannya program pembangunan yang dicanangkan oleh negara.
Terciptanya ketentraman dalah hidup bermasyarakat
Kehidupan masyarakat yang meskipun di dalamnya terdapat berbagai perbedaan seperti perbedaan beragama akan tetapi ada sikap saling toleransi yang tertanam di dalam hati warga masyarakat tersebut, maka tentunya hal itu akan menciptakan suasana yang aman, tentram, dan damai di dalam lingkungan tersebut. Tidak akan ada sikap saling mengejek, mengolok, menghina, serta merendahkan di antara para pemeluk agama, meskipun keyakinan yang mereka miliki sangat jauh berbeda.
Lebih mempertebal keimanan
Setiap agama tentu mengajarkan perihal kebaikan kepada umatnya. Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk hidup bermusuhan dengan sesama manusia.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Setelah penulis menguraikan pembahasan-pembahasan tersebut di atas mengenai “Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Glagah wero”(Studi Hubungan Antar Umat Islam, Kong hu cu, Thong, Hindu dan Buddha), maka dapat penulis simpulkan bahwa, terjadinya kerukunan antar umat beragama di Desa Glagah wero tidak lepas dari beberapa faktor di antannya, Pandangan tokoh agama tentang kerukunan antar umat beragama adalah hal penting, dimana dalam kemajemukan di masyarakat yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama sangat rentan terjadi gesekan.
Gesekan yang terjadi bisa jadi karena adanya pandangan sebagian kecil dari masyarakat yang kurang terbuka dalam berinteraksi dengan masyarakat. Dengan demikian para tokoh agama selalu berkoordinasi untuk melakukan pembinaan di umatnya masing-masing untuk selalu menjaga kerukunan antar umat beragama. Pembinanan kerukunan antar umat beragama oleh tokoh agama adalah dengan melakukan komunikasi aktif dengan sesama tokoh agama melalui pertemuan formal yang telah diagendakan, dan pertemuan formal dan informal saat berinteraksi dalam waktu-waktu tertentu yang sifatnya situasional guna menjaga menjaga kondisi kerukunan yang sudah berlangsung. Sedangkanpembinannan kerukunan antar umat beragama oleh Pemerintah Desa Glagah wero adalah dengan sudah adanya komitmen untuk menjaga warganya dalam bingkai kerukunan yang didasari dari kebutuhan bersama. Perbedaan menjadikan tantangan sekaligus peluang dalam rangka menjadikan warga Desa Glagah wero sebagai desa yang mampu mewujudkan kerukunan antar umat beragama.
Pemerintah memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa membedakan latarbelakang agamanya karena hak warga masyarakat adalah sama untuk dilayani dengan baik. Pembinaan antar umat beragama yang dilakukan oleh pemerintah desa adalah memberi jaminan bagi umat beragama untuk menjalankan ibadah menurut agama dan keyakinannya dengan aman.
SARAN
Setelah melihat kondisi kerukunan antar umat beragama di Desa Glagah wero Kecamatan Panti Kabupaten Jember, maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut, Kepada Pemerintah Desa Glagah wero untuk selalu memberikan kepada seluruh umat beragama jaminan rasa aman dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan agama yang diyakininya. Melakukan penguatan kerukunan antar umat beragama di masyarakat dengan selalu menjadi media yang netral dalam mengatasi persoalan yang khususnya yang berkaitan tentang kerukunan antar umat beragama. Kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk menguatkan sinergi kerukunan antar umat beragama dengan melakukan pengarahan dan pembinaan pada umatnya masing-masing tentang perlu dan pentingnya kerukunan antar umat beragama. Menjalin komunikasi yang intensif antar sesama tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan terjadinya konflik antar umat beragama. Kepada seluruh warga Desa Glagah wero untuk menjaga kerukunan antar umat beragama yang selama ini sudah berlangsung dengan harmonis
DAFTAR PUSTAKA
Al Munawar, Said Agil Husin. 2005. Fikih Hubungan antar Agama. Jakarta: Penerbit Ciputat Press.
Asyari, Sapari Imam. 1981. Metode Penelitian Sosial Suatu Petunjuk Ringkas. Surabaya: Usaha Nasional.
Lubis, Ridwan. 2005. Cetak Biru Peran Agama. Jakarta: Puslitbang. Maftukhah,
Umi. 2014. Kerukunan antar Umat Beragama dalam Masyarakat
Syaukani, Imam. 2008. Kompilasi Kebijakan dan Peraturan Perundang Undangan Kerukunan Umat Beragama. Jakarta: Puslitbang.
Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al Qur’an.1989. Al Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama.