Jangan Takut
Monday, 15 October 2018
Jangan
Takut
Saya
awali tulisan yang jauh dari kesempurnaan ini dengan pengklarifikasian tentang
ketakutan yang tertanam dalam setiap individu untuk berfikir mengenai kebenaran
yang selama ini di percaya. Apakah kebenaran yang di yakini selama ini itu memang
benar atau malah salah?
Manusia
diciptakan tuhan dengan keadaan yang begitu unik dan sangat berbeda dengan
makhluk lainnya. Makhluk selain manusia diciptakan oleh tuhan tanpa kemampuan
untuk berfikir ataupun menganalisa, sehingga dia tidak mampu untuk memilih
bahkan tidak ada keinginan untuk memilih semua kehidupannya dia laluinya
bagaikan air yang mengalir. Sedangkan manusia diciptakan oleh tuhan dengan
kemampuan berfikir dan dapat memilih kehendaknya sesuai apa yang di inginkan.
Kebebasan berkehendak itulah yang membuat manusia dapat melebihi malaikat dalam
ha kebaikan atau melebihi iblis dalam hal keburukan.
Namun,
kemampuan tersebut kadang tidak dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian manusia,
mereka yang mampu berfikir kadang tidak menggunakan akalnya untuk menganalisa
dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan atau dinamika hukum yanng berlaku
ditatanan kehidupan. Lantas apa yang akan terjadi jika kita terlalu memperbudak
kebenaran?.
Mari
kita urai bersama. Pernahkah kita menanyakan apakah kebenaran yang yakini itu
sudah benar?. Contoh saja Tuhan. setidaknya,
secara global tuhan dapat diklasifikasi menjadi 2 bagian yang terpisah. Pertama,
Tuhan yang menciptakan. Kedua, tuhan yang diciptakan. Tuhan jenis pertama
merupakan Tuhan dengan 'T' besar, yang berarti Tuhan yang benar serta menjadi
keharusan untuk disembah, dipuja dan dipuji. Dia adalah awal sekaligus akhir.
Suatu dzat yang didambakan sepanjang huru-hara sejarah manusia.Tuhan jenis ini
menjadi sumber kekuatan dan harapan serta sumber kebaikan, inspirasi, motivasi,
petunjuk untuk membangun sebuah tatanan terbaik memilih hidup yang baik di
dunia yang penuh dengan gejolak, ketakmenentuan dan kekacauan.
Namun
permasalahannya pernahkah kita berfikir dan mengkritisi tentang kebenaran yang
selama ini kita pegang (dogma, warisan dan ideologi) tentang Tuhan. Saya rasa,
Tuhan tidak hanya membenci kemunafikan dalam bertindak, tetapi juga membenci
terhadap kemunafikan dalam berfikir. Yaitu takut untuk mencari kebenaran yang
selama ini dipegangnya, toh manusia diciptakan dengan kemampuan berfikir. Dari
itulah seharusnya manusia dengan kemampuannya
berani bernalar dan menelanjangi kebenaran yang hanya di yakini melalui
jalan dogmatis. Bisa sajakan keyakinan terhadap Tuhan yang selama ini kita
pegang merupakan kepentingan kelompok tertentu untuk di jadikan ladang bisnis
dan berpolitik, misalnya. Mengapa kita tidak pernah mengkritisi akan hal itu
untuk mencari kebenaran?
Banyak orang yang menganggap sesuatu
itu benar dan itu salah. Tapi pernahkah seseorang memberi argumentasi tentang
anggapannya yang benar dan yang salah itu?
Saya rasa tidak, sehingga argumen tentang anggapannya yang benar dzan
yng salah itu selalu berujung pada argumen “pokoknya,
intinya”. Hingga akhirnya kebenaran semacam itu hanyalah sebatas dogma,
Warisan dan ideologi bukan kebenaran melalui pencarian dan pengalaman.
Sangatlah miris mengingat manusia sebagai animal
rational.
Terakhir saya tutup tulisan ini
dengan statemen “manusia belum bisa dikatakan bebas, sebelum ia berani
melepaskan akal pikirannya dari belenggu kekolotan dogma. Seperti dogma agama
dan budaya. DON’T
BE AFRAID (janganlah takut) !!! USE
ABILITY (gunakan kemampuan) untuk mencari kebenaran.