PageNavi Results Number

Jangan Takut


Jangan Takut

Saya awali tulisan yang jauh dari kesempurnaan ini dengan pengklarifikasian tentang ketakutan yang tertanam dalam setiap individu untuk berfikir mengenai kebenaran yang selama ini di percaya. Apakah kebenaran yang di yakini selama ini itu memang benar atau malah salah?

Manusia diciptakan tuhan dengan keadaan yang begitu unik dan sangat berbeda dengan makhluk lainnya. Makhluk selain manusia diciptakan oleh tuhan tanpa kemampuan untuk berfikir ataupun menganalisa, sehingga dia tidak mampu untuk memilih bahkan tidak ada keinginan untuk memilih semua kehidupannya dia laluinya bagaikan air yang mengalir. Sedangkan manusia diciptakan oleh tuhan dengan kemampuan berfikir dan dapat memilih kehendaknya sesuai apa yang di inginkan. Kebebasan berkehendak itulah yang membuat manusia dapat melebihi malaikat dalam ha kebaikan atau melebihi iblis dalam hal keburukan.

Namun, kemampuan tersebut kadang tidak dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian manusia, mereka yang mampu berfikir kadang tidak menggunakan akalnya untuk menganalisa dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan atau dinamika hukum yanng berlaku ditatanan kehidupan. Lantas apa yang akan terjadi jika kita terlalu memperbudak kebenaran?.

Mari kita urai bersama. Pernahkah kita menanyakan apakah kebenaran yang yakini itu sudah benar?. Contoh saja Tuhan. setidaknya, secara global tuhan dapat diklasifikasi menjadi 2 bagian yang terpisah. Pertama, Tuhan yang menciptakan. Kedua, tuhan yang diciptakan. Tuhan jenis pertama merupakan Tuhan dengan 'T' besar, yang berarti Tuhan yang benar serta menjadi keharusan untuk disembah, dipuja dan dipuji. Dia adalah awal sekaligus akhir. Suatu dzat yang didambakan sepanjang huru-hara sejarah manusia.Tuhan jenis ini menjadi sumber kekuatan dan harapan serta sumber kebaikan, inspirasi, motivasi, petunjuk untuk membangun sebuah tatanan terbaik memilih hidup yang baik di dunia yang penuh dengan gejolak, ketakmenentuan dan kekacauan.

Namun permasalahannya pernahkah kita berfikir dan mengkritisi tentang kebenaran yang selama ini kita pegang (dogma, warisan dan ideologi) tentang Tuhan. Saya rasa, Tuhan tidak hanya membenci kemunafikan dalam bertindak, tetapi juga membenci terhadap kemunafikan dalam berfikir. Yaitu takut untuk mencari kebenaran yang selama ini dipegangnya, toh manusia diciptakan dengan kemampuan berfikir. Dari itulah seharusnya manusia dengan kemampuannya  berani bernalar dan menelanjangi kebenaran yang hanya di yakini melalui jalan dogmatis. Bisa sajakan keyakinan terhadap Tuhan yang selama ini kita pegang merupakan kepentingan kelompok tertentu untuk di jadikan ladang bisnis dan berpolitik, misalnya. Mengapa kita tidak pernah mengkritisi akan hal itu untuk mencari kebenaran?

            Banyak orang yang menganggap sesuatu itu benar dan itu salah. Tapi pernahkah seseorang memberi argumentasi tentang anggapannya yang benar dan yang salah itu?  Saya rasa tidak, sehingga argumen tentang anggapannya yang benar dzan yng salah itu selalu berujung pada argumen “pokoknya, intinya”. Hingga akhirnya kebenaran semacam itu hanyalah sebatas dogma, Warisan dan ideologi bukan kebenaran melalui pencarian dan pengalaman. Sangatlah miris mengingat manusia sebagai animal rational.

            Terakhir saya tutup tulisan ini dengan statemen “manusia belum bisa dikatakan bebas, sebelum ia berani melepaskan akal pikirannya dari belenggu kekolotan dogma. Seperti dogma agama dan budaya. DON’T BE AFRAID (janganlah takut) !!! USE ABILITY (gunakan kemampuan) untuk mencari kebenaran.




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel