Tidak Hanya Corona, Paham Radikal Juga Perlu Mendapat Perhatian Khusus
Tidak Hanya
Corona, Paham Radikal Juga Perlu Mendapat Perhatian Khusus
Banyak negara di seluruh dunia mulai disibukkan
dengan peperangan melawan pandemic COVID-19 atau biaya disebut dengan virus
corona. Serta banyak juga kaum elit pemerintahan mulai mengeluarkan
kebijakan-kebijakan untuk melawan pandemi ini. Salah satu upaya dalam bentuk
perlawanan adalah menghindari perkumpulan, baik perkumpulan acara sosial
kemasyarakatan ataupun acara sosial keagamaan. Adajuga kebijakan pemepintah
yang mendapat nyinyiran dari masyarakat kelas menengah kebawah yaitu Stay At
Home, suatu larangan bagi setiap orang untuk meninggalkan rumah meski dalam
raaangka mencari nafkah.
Terjadinya suatu fenomena yang kurang stabil ini
terindikasi akan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok berpaham radikal dan anti
pemerintah untuk mempengaruhi masyarakat. kecenderungan ini muncul seiring
banyaknya prvokasi dan berita-berita hoax untuk menciptakan krisis kepercayaan
kepada pemerintah. Maka dengan inilah masyarakat diperlukan untuk tetap waspada
terhadap konsolidasi radikalisme ditengah-tengah pendemi covid-19.
Seperti yang diketahui bahwa paham radikal dan anti
pemerintahan sangat pandai membaca, menganalisa dan memanfaatkan situasi
terutama pada situasi darurat ini. Hari ini diyakini atau tidak seluruh element
bangsa sedang berkonsentrasi menghadapi pandemi corona sehingga sedikit lalai
untuk membentengi negara sendiri dari paham radikalisme. Serbuan paham ini
pasti akan lebih mengerikan dari pada covid-19 karena yang dipertaruhkan adalah
sebuah persatuan dan kesatuan. Kemungkinan besar yang dilakukan oleh paham radikalisme ini adalah jual beli
propaganda dan membuat berita-berita hoax yang tidak pernah sepi akan
pelanggan. Inilah alat yang paling efektif untuk memikat targetnya dalam situasi
darurat ini.
Menurut Risky, wakil sekretaris Pemuda Pejuang Bravo-5, seperti yang dilansir dari suaradewata.com yang terejawantahkan dalam kajian dialektika bertema “mewaspadai paham radikalisme dan prilakunya di era millenial”, bahwa situasi darurat penanganan covid-19 ini berpotensi di gerakkan atau di tungganghi oleh oknum-oknum anti pemerinta ataun lebih tegasnya paham radikalisme.
foto : Ilusi dari suaradewata.com
Hal yang perlu di perhatikan oleh masyarakat atau
pun pemerintah ditengah-tengah pandemi ini adalah bekerja sama untuk menjaga
kesatuan dan segera mengangani ancaman dan penyebaran paham radikalisme
tersebut. Risky juga beranggapan bahwa ruang publik pada media benyak
berita-berita hoaks atau opini-opini bertebaran yang lebih mengarah kepada
mendegradasi pemerintahan yang sah. Bahkan banyak di temukannya isu-isu yang
mengarah kepada gerakan radikalisme, hal ini tentu dapat menancam keutuhan
bernegara, berbangsa ataupun beragama.
Dalam sudut pandang Risky, adanya situasi yang
disebabkan oleh kemunculan Pandemi covid-19 justru dijadikan peluang bagi
oknum-oknum radikal untuk membangun sentiment negative terhadap pemerintahan
akan ketidak mampuannya menangani wabah ini. Hal ini tentu sangat berbahaya
terhadap kelangsungan hidup bernegara atau pun sangat berbahaya terhadap
keutuhan NKRI,
Maka demikian, sekalipun semua elemen maasyarakat
terfokuskan untuk menangangi dan berupaya meredakan pandemi Covid-19, jangan
sampai lupa terhadap paham radikalisme yang serangannya lebih berbahaya dari
Covid-19. Setidaknya dukungan dari berbagai sektor atau elemen masyarakat
ataupun pemerintahan harus selalu mewaspadai dan mengantisipasi potensi ancaman
paham radikalisme secara aktif ditengat-tengah pandemi ini.
Setelah mengetahui tentang potensi penyebaran paham
radikalisme ditengan-tengan pandemi Covid-19, alangkah baiknya beik pemerinta
lebih-lebih masyarakat awam mengetahui tanda-tanda seseorang atau suatu
kelompok yang terpapar paham radikalisme. Sebagaimana disinyalir dari MIRIFICA
News setidaknya ada beberapa tanda yang perlu dicurigai seseorang yang terpapar
doktrin radikal diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Anti
Sosial
Berbeda dengan isolasi diri, ada anjuran atau
kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk memutuskan rantai penyebaran
covid-19 dengan isolasi diri. Menjauhi keramaian agar virus corona tidak mudah
menyebar dari satu orang kepada orang lain. Hal ini tentu berbeda dengan anti
sosial yang menjadi ciri khas paham radikal, anti sosial ini lebih nengarah
kepada tidak mau bergaul dan bersahabat dengan orang lain karena berbeda paham
atau berbeda ideology.
2.
Menghadiri
perkumpulan rahasia
Hal ini menjadi identitas yang sangat populer
dikalangan paham radikalisme. Orang yang terpapar paham radikalisme tidak akan
pernah memberitahu dengan siapa ia berkumpul, dimana ia berkumpul dan tidak
akan pernah memberitahukan apatujuan dari perkumpulan tersebut. serba rahasia
ini sangat memungkinkan kelompok tersebut merupakan kelompok Anti pemerintah;
3.
Perubahan
emosional
Perubahan emopsional dalam bersikap atau berprilaku
lebih-lebih terkait agama, politik dan sebagainya cukup menjadi tanda bahwa
orang atau kelompok tersebut bagian dari paham radikal. Biasanya orang atau
kelompok ini sangan frontal jika terjadi perbedaan disekelilingnya. Bahkan tidak akan senang terhadap pemikiran pemuka
agama ataupun lembaga keagamaan yang moderat,pasti mereka akan beranggapan
bahwa pemuka agama yang moderat sudah sesat dan menyesatkan.
Dari
beberapa tanda-tanda diatas dapat diketahui jika seseorang tidak hanya
terfokuskan menghadapi dan melawan Covid-19. Setiap masyarakat lebih-lebih
pemerintahan mempunyai peran aktif dalam mewaspadai paham radikalisme. Jika
semua elemen masyarakat bersinergi dan peka terhadap berbagai wacana ataupun
fenomena sosial dimasyarakat maka Virus corona atau pun paham Radikalisme dapat
diatasi tanpa adanya korban yang terpaparnya.
