PageNavi Results Number

Sebagai seorang petani kopi, bapak bangga kepadamu

ilustrasi Petani Kopi (sumber : esai-esai-kopi.com)
Orang tua mana yang tidak bangga jika anak satu-satunya menjadi permata dalam keluarga 
Jauh dari perkotaan, tidak ada bangunan menjulang tinggi, tidak adaperindustrian, tidak ada kemacetan yang ada hanyalah pepohonan yang lebat, tumbuh-tumbuha hijau, udara yang segar adalah suatu karaktereistik pedesaan. Bertegur sapa, cengkul mencangkul tanah adalah kegiatan rutinitas seorang petani atau pun pekebun. Aslam namanya, seorang petani kopi yang setiaphari pergi kekebun untuk merawan tanaman yang ia pelihara. Tak ada kata libur kerja sebagai petani, serta juga tidak ada kata ikatan peratuan dalam aktifitas kerjanya.

            Aslam beranggapan bahwa seorang petani adalah suatu pekerjaan yang mulia, karena dapat memenuhi kebutuhan yang ada di kota. Memang bebanr tanpa adanya petani kebutuhan-kebutuhan di kota kadang kala tidak terpenuhi bahkan tanpa petani stok kebutuhan sandang pangan dikota bisa saja tidak tercukupi. meskipun seorang petani kadang kala dinilai sebagai pekerja murahan dan kotor-kotoran aslam tetap teguh dan rajin mengerjakan pekerjaan itu.

            Hampir sepanjang hidupnya aslam habiskan di ladang kopi, sekalipun beranggapan pekerjaan yang mulia, tidak jarang juga aslam berpikiran bahwa anaknya harus lebih baik nasibnya dari dirinya (aslam). Aslam mempunyai seorang anak yang sedang menempuh pendidikan di jenjang SLTA (Sekolah Lanjut Tingkat Atas), roni namanya. Roni tersebut menjadi anak yang sangat diharapkan oleh aslam.

            Suatu hari sebelum aslam berangkat bekerja ke ladang kopi, ia selalu menasihati sang anak untuk selalu rajin belajar karena hanya dengan belajarlah seseorang aakan mampu mengubah kehidupan bahkan dapat mengubah nasih yang kurang baik menjadi lebih baik.

lee jangan malas-malas di sekolah ya, kamu harus rajin belajar biar menjadi anak yang pintar” ucap Aslam sebelum berangkat bekerja.

enggeh bapak” jawab sang anak sembari merundukkan kepala.

bapak sebagai petani, setidaknya kamu bisa menjadi lebih baik dari bapak, entah jadi orang kantoran atau apalah pokok kamu harus lebih baik dari bapak, kan gitu ya  buk” timpal aslam sembari berharap-harap dan memandang istrinya.

iya leee kamu harus menjadi kebanggan orang tua” tambah ibu roni yang bernama sumiyati. Setelah obrolan ringan dengan sang anak aslam pun berangkat ke ladang seperti hari-hari biasanya.

bapak berasngkat ke ladang ya” ucap aslam pamitan kepada sumiyati dan anaknya itu

            Disamping itu mentari yang mulai menempakkan dirinya di ufuk timur membuat Roni tersadar bahwa sebentar lagi ia harus bersiap-siap untuk berangkat kesekolah. “emmak,roni mandi dulu ya untuk siap-siap berangkat kesekolah” ucap aslam sambil melangkah kan kakinya ke kamar mandi.

iya lee. Cepetan sudah jam 6 lewat nie” ucap sang ibu.

            Selesainya mandi Roni pun pamitan kepada sang ibu untuk berangkat kesekolah, namun sang ibu mencegahnya karena ia sadar bahwa Roni belum sarapan. “lee sarapan dulu biar nanti di sekolah kamu bisa fokus belajar” kata sumiyati.

            Roni pun mengikuti saran dari ibunya. Sumiyati setiap pagi memang menyiapkan sarapan untuk sang anak sebekum berangkat kesekola. Seperti petani-petani pada umumnya sumiati selalu memasak singkong rebus untuk diolah menjadi sarapan. Diatas meja ruang tamu pun Roni menumakn sarapan itu, ia mengambil 2 sampai 3 potongan singkong untuk disantap sebagai pengganjal perut.

emmak, Roni berangkat ya, roni sudah habiskan 3 potong singkongnya” kata roni. Ronipun menghampiri sumiyati dan mencium tangannya sambil pamitan.

ingat pesan bapak ya le, di sekolah jangan nakal, harus rajin belajar” pasan sumiyati

iya mak” jawab roni singkat

            Roni pun melangkah kaki dan keluar dari rumah untuk berangkat kesekolah. Dengan sepeda ontel pemberian sang ayah 3 tahun yang lalu roni pun hilang dari pandangan mata sumiyati.

            Sesampainya disekolah roni berinteraksi seperti biasanya dengan teman-teman, tidak lama kemudian suara lonceng sekolah berbunyi pertanda masuk kelas dan kegiatan belajar akan segera berlangsung. Roni dan teman-temannya pun memasuki kelas. Kelas berjalan lancar seperti biasanya.

            Jam sudah menunjukkan pukul 11:30 WIB hampir waktunya bagi para siswa untuk pulang kerumah dan beraktifitas di rumah. Sesampainya dirumah, Roni hanya tidak melihat sang bapak yang belum datang dari ladang. “makkk bapak belum pulang dari ladang?” Tanya Roni kepada sumiyati

belum lee, mak juga heran, kon bapak belum datang ya” jawab sumiyati keheranan.

makk, Roni ingin keladang juga nyusul bapak, siapa tau sampai sana roni bisa bantu-bantu bapak” kata roni. Memang sudah biasa, sepulang sekolah jika bapak roni (Aslam) belum belek kerumah ketika roni pulang sekolah, roni biasa bantuin Aslam diladang.

iya dah le, hati-hati. Oiya ganti baju dulu sana” ucap sumiyati. Roni pun mengikuti kata ibunya.

Selesai berganti baju ronipun berangkat ke ladang kopi milik bapaknya. Di perjalanan roni sangat menikmati udara segar perkebunan. Sekali-kali roni bergumam ‘segar sekali udara disini, dan tidak panas walaupun matahari bersinar terang’ batin Roni.

Sekitar 30 menit-an roni menelusuri jalan setapak dan akhirnya sampailah diladang kopi milik ayahnya itu. dari jauh roni mengamati dan mencari-cari sang ayah, namun matanya tidak menemukan sosok ayah itu. “pakkk… bapak di mana?” panggil roni

disini ron, digazebo pohon kelapa” ujar Aslam.

            Ronipun tertuju pandangannya ke sebuah gazebo kecil dibawah pohon kelapa itu sembari mendekatinya. Pada langkah menedekati sang ayah roni terheran-heran dengan sesuatu yang dipegang oleh sang ayah. Namun roni mengabaikannya.

kok belum pulang pak?” Tanya Roni

in iron bapak tidak ngerti ini apa, barusan ada 2 orang kantoran berpenampilan rapi melihat-lihat kebun bapak, dan memberikan buku ini, tapi bapak tidak tau apa ini bapak kan tidak tau baca, barusan tak paksakan untuk membaca tapi tetap saja tidak bisa” kata Aslam sedikit tertawa sembari menunjukkannya kepada roni. Melihat buku tersebut ronipun tau bahwa buku itu adalah buku kiat-kiat sukses petani kopi.

“oalah… ini buku panduan untuk sukses menanam kopi bapak” kata roni

lahh kan bapak sudah sukses membuat kopi berbuah dan sudah panen berapa kali ini, berarti bapak tidak butuh buku itu dong” kata Aslam

bapak akan butuh terhadap buku ini, nanti di rumah akan roni bacakan untuk bapak, sekarang pulang dulu sudah hampir jam 1 ini, juga sudah mendung lagi” Ajak Roni kepada bapaknya.

            Aslam pun mengambil cangkulnya dan beranjak untuk pulang. Diperjalanan aslam dan roni sedikit berbincang-bincang sesekali sang bapak selalu menanyakan bagaimana proses belajar di sekolah. Kartena aslam tidak ingin roni menjadi seperti dirinya yang tidak tau baca itu.

            Sesampainya di rumah sumiyati sudah menyiapkan teh anget seperti biasanya untuk memberi minum sang suami yang datang dari ladang. “kok lama diladang pak” Tanya sumiyati. “apa yang di pegeng roni itu” imbuhnya. Ketika melihat buku yang di pegang roni.

ini mak yang bikin bapak lama diladang” kata roni “bapak mendapatkan buku ini dari dinas pertanian” kata roni

apa isi buku itu ron?” Tanya sang ibu

iya ron apa isinya itu, di ladang bapak baca gak paham-paham” imbuh Aslam.

“sebentar pak, roni baca dulu” kata roni.

            Setelah sekitar 15 menit roni membaca buku itu, ia pun menjelaskan kepada bapak ibunya. “ini pak, makk, ternyata isi buku ini adalah panduan tepat untuk menanam kopi, di dalam buku ini juga dijelaskan bahwa bapak bisa mendapatkan 2 sampai 3 jenis kopi dalam satu pohon kopi. Misalnya nie bapak punya kopi jenis arabika. Terus bapak melakukan stek batang dengan jenis kopi lain itu sama-sama hidup bapak dan bapak bisa mendapatkan hasil yang mungkin akan lebih besar” jelas roni.

            Mendengar penjelasan anaknya itu Aslam dan sumiyati kaget dan baru tau bahwa kopi bisa di stek batang dan tentunya jika stek batang tersebut dilakukan dengan benar pasti akan menambah hasil panen. “bapak baru tau ron klok kopi bisa di stek batang, untung kamu tidak seperti bapak tidak tau baca. Dengan kamu bisa baca kamu bisa bimbing bapak untuk melakukan stek batang sesuai langkah-langkah yang ada dibuku itu, kamu tau baca saja aku bangga padamu ron, kamu harus lebih banyak belajar ya biar jika bapak ada kesulitan bapak dan ibu Tanya kekamu” kata Aslam.

Roni pun mengangguk mendengar kata Aslam bapak tercinta itu, roni pun mengikuti kata bapaknya untuk terus belajar. Dia belajar pahami buku pertanian kopi itu hingga membimbing bapaknya dalam melakukan stek batang dan ternyata berhasil. Tidak bisa digambarkan lagi bagaimana kebanggan orang tua anak jika anaknya mau belajar hingga meraih kesuksesan. Itulah jalan hidup roni bersama keluarganya yang dihidup dikampung dan bapak dan menjadi petani kopi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel