Sebagai seorang petani kopi, bapak bangga kepadamu
![]() |
| ilustrasi Petani Kopi (sumber : esai-esai-kopi.com) |
Aslam
beranggapan bahwa seorang petani adalah suatu pekerjaan yang mulia, karena
dapat memenuhi kebutuhan yang ada di kota. Memang bebanr tanpa adanya petani
kebutuhan-kebutuhan di kota kadang kala tidak terpenuhi bahkan tanpa petani stok
kebutuhan sandang pangan dikota bisa saja tidak tercukupi. meskipun seorang
petani kadang kala dinilai sebagai pekerja murahan dan kotor-kotoran aslam
tetap teguh dan rajin mengerjakan pekerjaan itu.
Hampir
sepanjang hidupnya aslam habiskan di ladang kopi, sekalipun beranggapan
pekerjaan yang mulia, tidak jarang juga aslam berpikiran bahwa anaknya harus
lebih baik nasibnya dari dirinya (aslam). Aslam mempunyai seorang anak yang sedang
menempuh pendidikan di jenjang SLTA (Sekolah Lanjut Tingkat Atas), roni
namanya. Roni tersebut menjadi anak yang sangat diharapkan oleh aslam.
Suatu
hari sebelum aslam berangkat bekerja ke ladang kopi, ia selalu menasihati sang
anak untuk selalu rajin belajar karena hanya dengan belajarlah seseorang aakan
mampu mengubah kehidupan bahkan dapat mengubah nasih yang kurang baik menjadi
lebih baik.
“lee jangan
malas-malas di sekolah ya, kamu harus rajin belajar biar menjadi anak yang
pintar” ucap Aslam sebelum berangkat bekerja.
“enggeh bapak”
jawab sang anak sembari merundukkan kepala.
“bapak sebagai
petani, setidaknya kamu bisa menjadi lebih baik dari bapak, entah jadi orang
kantoran atau apalah pokok kamu harus lebih baik dari bapak, kan gitu ya buk” timpal aslam sembari berharap-harap
dan memandang istrinya.
“iya leee kamu
harus menjadi kebanggan orang tua” tambah ibu roni yang bernama sumiyati. Setelah
obrolan ringan dengan sang anak aslam pun berangkat ke ladang seperti hari-hari
biasanya.
“bapak
berasngkat ke ladang ya” ucap aslam pamitan kepada sumiyati dan anaknya itu
Disamping
itu mentari yang mulai menempakkan dirinya di ufuk timur membuat Roni tersadar
bahwa sebentar lagi ia harus bersiap-siap untuk berangkat kesekolah. “emmak,roni mandi dulu ya untuk siap-siap
berangkat kesekolah” ucap aslam sambil melangkah kan kakinya ke kamar
mandi.
“iya lee.
Cepetan sudah jam 6 lewat nie” ucap sang ibu.
Selesainya
mandi Roni pun pamitan kepada sang ibu untuk berangkat kesekolah, namun sang
ibu mencegahnya karena ia sadar bahwa Roni belum sarapan. “lee sarapan dulu biar nanti di sekolah kamu bisa fokus belajar” kata
sumiyati.
Roni
pun mengikuti saran dari ibunya. Sumiyati setiap pagi memang menyiapkan sarapan
untuk sang anak sebekum berangkat kesekola. Seperti petani-petani pada umumnya
sumiati selalu memasak singkong rebus untuk diolah menjadi sarapan. Diatas meja
ruang tamu pun Roni menumakn sarapan itu, ia mengambil 2 sampai 3 potongan
singkong untuk disantap sebagai pengganjal perut.
“emmak, Roni
berangkat ya, roni sudah habiskan 3 potong singkongnya” kata roni. Ronipun
menghampiri sumiyati dan mencium tangannya sambil pamitan.
“ingat pesan
bapak ya le, di sekolah jangan nakal, harus rajin belajar” pasan sumiyati
“iya mak” jawab
roni singkat
Roni
pun melangkah kaki dan keluar dari rumah untuk berangkat kesekolah. Dengan sepeda
ontel pemberian sang ayah 3 tahun yang lalu roni pun hilang dari pandangan mata
sumiyati.
Sesampainya
disekolah roni berinteraksi seperti biasanya dengan teman-teman, tidak lama
kemudian suara lonceng sekolah berbunyi pertanda masuk kelas dan kegiatan
belajar akan segera berlangsung. Roni dan teman-temannya pun memasuki kelas.
Kelas berjalan lancar seperti biasanya.
Jam
sudah menunjukkan pukul 11:30 WIB hampir waktunya bagi para siswa untuk pulang
kerumah dan beraktifitas di rumah. Sesampainya dirumah, Roni hanya tidak
melihat sang bapak yang belum datang dari ladang. “makkk bapak belum pulang dari ladang?” Tanya Roni kepada sumiyati
“belum lee, mak
juga heran, kon bapak belum datang ya” jawab sumiyati keheranan.
“makk, Roni
ingin keladang juga nyusul bapak, siapa tau sampai sana roni bisa bantu-bantu
bapak” kata roni. Memang sudah biasa, sepulang sekolah jika bapak roni
(Aslam) belum belek kerumah ketika roni pulang sekolah, roni biasa bantuin
Aslam diladang.
“iya dah le,
hati-hati. Oiya ganti baju dulu sana” ucap sumiyati. Roni pun mengikuti
kata ibunya.
Selesai berganti baju ronipun berangkat ke ladang
kopi milik bapaknya. Di perjalanan roni sangat menikmati udara segar
perkebunan. Sekali-kali roni bergumam ‘segar
sekali udara disini, dan tidak panas walaupun matahari bersinar terang’ batin
Roni.
Sekitar 30 menit-an roni menelusuri jalan setapak
dan akhirnya sampailah diladang kopi milik ayahnya itu. dari jauh roni
mengamati dan mencari-cari sang ayah, namun matanya tidak menemukan sosok ayah
itu. “pakkk… bapak di mana?” panggil
roni
“disini ron,
digazebo pohon kelapa” ujar Aslam.
Ronipun
tertuju pandangannya ke sebuah gazebo kecil dibawah pohon kelapa itu sembari
mendekatinya. Pada langkah menedekati sang ayah roni terheran-heran dengan
sesuatu yang dipegang oleh sang ayah. Namun roni mengabaikannya.
“kok belum
pulang pak?” Tanya Roni
“in iron bapak
tidak ngerti ini apa, barusan ada 2 orang kantoran berpenampilan rapi
melihat-lihat kebun bapak, dan memberikan buku ini, tapi bapak tidak tau apa
ini bapak kan tidak tau baca, barusan tak paksakan untuk membaca tapi tetap
saja tidak bisa” kata Aslam sedikit tertawa sembari menunjukkannya kepada
roni. Melihat buku tersebut ronipun tau bahwa buku itu adalah buku kiat-kiat
sukses petani kopi.
“oalah… ini buku
panduan untuk sukses menanam kopi bapak” kata
roni
“lahh kan
bapak sudah sukses membuat kopi berbuah dan sudah panen berapa kali ini,
berarti bapak tidak butuh buku itu dong” kata Aslam
“bapak akan
butuh terhadap buku ini, nanti di rumah akan roni bacakan untuk bapak, sekarang
pulang dulu sudah hampir jam 1 ini, juga sudah mendung lagi” Ajak Roni
kepada bapaknya.
Aslam
pun mengambil cangkulnya dan beranjak untuk pulang. Diperjalanan aslam dan roni
sedikit berbincang-bincang sesekali sang bapak selalu menanyakan bagaimana
proses belajar di sekolah. Kartena aslam tidak ingin roni menjadi seperti
dirinya yang tidak tau baca itu.
Sesampainya
di rumah sumiyati sudah menyiapkan teh anget seperti biasanya untuk memberi
minum sang suami yang datang dari ladang. “kok
lama diladang pak” Tanya sumiyati. “apa
yang di pegeng roni itu” imbuhnya. Ketika melihat buku yang di pegang roni.
“ini mak yang
bikin bapak lama diladang” kata roni “bapak
mendapatkan buku ini dari dinas pertanian” kata roni
“apa isi buku
itu ron?” Tanya sang ibu
“iya ron apa
isinya itu, di ladang bapak baca gak paham-paham” imbuh Aslam.
“sebentar pak,
roni baca dulu” kata roni.
Setelah
sekitar 15 menit roni membaca buku itu, ia pun menjelaskan kepada bapak ibunya.
“ini pak, makk, ternyata isi buku ini
adalah panduan tepat untuk menanam kopi, di dalam buku ini juga dijelaskan
bahwa bapak bisa mendapatkan 2 sampai 3 jenis kopi dalam satu pohon kopi.
Misalnya nie bapak punya kopi jenis arabika. Terus bapak melakukan stek batang
dengan jenis kopi lain itu sama-sama hidup bapak dan bapak bisa mendapatkan
hasil yang mungkin akan lebih besar” jelas roni.
Mendengar
penjelasan anaknya itu Aslam dan sumiyati kaget dan baru tau bahwa kopi bisa di
stek batang dan tentunya jika stek batang tersebut dilakukan dengan benar pasti
akan menambah hasil panen. “bapak baru
tau ron klok kopi bisa di stek batang, untung kamu tidak seperti bapak tidak
tau baca. Dengan kamu bisa baca kamu bisa bimbing bapak untuk melakukan stek
batang sesuai langkah-langkah yang ada dibuku itu, kamu tau baca saja aku
bangga padamu ron, kamu harus lebih banyak belajar ya biar jika bapak ada
kesulitan bapak dan ibu Tanya kekamu” kata Aslam.
Roni pun mengangguk mendengar kata Aslam bapak
tercinta itu, roni pun mengikuti kata bapaknya untuk terus belajar. Dia belajar
pahami buku pertanian kopi itu hingga membimbing bapaknya dalam melakukan stek
batang dan ternyata berhasil. Tidak bisa digambarkan lagi bagaimana kebanggan
orang tua anak jika anaknya mau belajar hingga meraih kesuksesan. Itulah jalan
hidup roni bersama keluarganya yang dihidup dikampung dan bapak dan menjadi
petani kopi.
