Pandemi Semoga Cepat Berlalu
Monday, 5 October 2020
caption foto : sepinya alun-alun kota dan pusat keramaian lainya dapat mempengaruhi penghasilan para pedagang asongan ataupun PKL setempat
Salah satu yang paling tampak terlihat akibat masa pandemi ini adalah merosotnya segala aktifitas manusia. Jika sebelum maraknya covid-19 ini, segala bentuk keramaian dipusat-pusat kota dapat kita temui setiap saat. Katakanlah di Alun-alun kota, dulunya sering kali melihat orang-orang bermain atau pun hanya berkunjung menjadi santapan mata setiap kali melintas di sekitarnya.
Namun hari ini menjadi sepi layaknya kota mati. Padahal disisi lain, ramainya pusat kota tersebut menjadi ladang penghasilan bagi sebagian orang seperti halnya PKL (Pedagang Kaki Lima) ataupun pedagang asongan lainnya.
Ketika keadaannya sudah seperti ini lantas apa yang akan menjadi masokan bagi para pedagang kecil yang hidupnya tergantung pada keramain pusat kota? Menganfalkan bantukan pemerintah?. No, itu bukan solusi.
Pasalnya di Negara indonesia menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, yang dilansir dari economi.okezone.com terdapat sebanyak 26,7 juta usaha, tercatat 7,8 juta usaha yang menempati bangunan khusus untuk tempat usaha. Dengan demikian, sebanyak 18,9 juta usaha tidak menempati bangunan khusus usaha.
Banyaknya angka usaha tidak menempati bangunan khusus usaha (red_PKL dan pedagang asongan), anggaran bantuan covid-19 mampu mencukupinya?. Sebagain besar orang beranggapan itu tidak akan cukup. Maka dari itu pandemi ini selain menciderai kesehatan sudah pasti menciderai perekonomian global, lebih-lebih perekonomian akar rumput (masyarakat bawah, masyarakat pinggiran) yang notabennya berpenghasilan dari kerja PKL dipusat keramaian pojok kota.