Anak Petani Tembakau Juara Membaca
![]() |
| Ilustrasi, walaupun Udin dari keluarga Petani, orang tuanya sangat menginginkan Udin dapat menempuh pendidikan yang tinggi |
Sementara istrinya bekerja sebagai pedangan kecil-kecilan untuk membantu sang suami yang sedang mencari nafkah. Pasangan suami istri tersebut bernama haliman sang suami dan yani sang istri.
Pasangan suami tersebut dikarunia seorang anak yang bernama Udin. Udin masih menduduki sekolah dasar kelas 2, udin terlihat sebagai seorang anak yang rajin dan patuh terhadap kedua orang tuanya. Hampir setiap hari yani sebagai ibu selalu menasihati anaknya (udin) untuk rajin belajar.
Wajarlah jika siswa SD kelas 2 rata-rata suka
belajar menulis, menggambar atau pun membaca. Begitu pula dengan udin, atas
dorongan dari kedua orang tuanya udin tumbuh menjadi seorang anak dapat
dibilang cepat dalam membaca.
Haliman sebagai seorang ayah yang notabennya sebagaian besar waktu siang hari banyak dihabiskan di sawah untuk mencari nafkah, mempunyai sedikit peran untuk membimbing anaknya. Namun walaupun begitu, bukan berarti haliman tidak pernah memperdulikan pendidikan ananya.
Dalam hal pendidikan haliman justru sangan mensupport anaknya
agar menjadi seoorang anak yang berpendidikan. Semua itu terejawantahkan dengan
kegigihan haliman dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga
ataupun kebutuhan pendidikan sang anak dalam menempuh pendidikan di sekolaah
dasar.
Baca Juga : Cara Mendidik Anak yang Baik
Tidak sedikit biaya yang sudah ia keluarkan untuk memenuhi kebutuhan anaknya itu, namun semua itu ia lakukan tanpa perhitungan. Bahkan dia pun bertekad untuk mengeluarkan berapa besarpun demi kebutuhan pendidikan anaknya tersebut. Bahkan dia rela harus pergi ketoko buku untuk mendapatkan buku yang disukai atau menjadi keperluan anaknya.
Sepulang dari sawah, Haliman mendapati udin sedang latihan membaca dengan bimbingan ibunya. “sihhh udin kamu lagi latihan membaca ya” Tanya haliman
“iya pak” jawab udin singkat sembari melanjutkan membaca teks yang
tertulis pada buku ditangannya itu.
“bagus, bagus, kamu harus pandai membaca nak” timpali haliman.
“sudah pak jangan ganggu udin, dia ingin mengikuti lomba membaca antar
sekolah makanya dia rajin membaca” kata yani memberi tahu haliman.
“lho iyya tah, buk?” Tanya haliman seakan-akan tidak percaya
“iyaa pak dia, mengikuti seleksi di kelasnya dan ternyata dia ditunjuk
untuk mewakili sekolah dan mengikuti lomba membaca” jelas yani meyakinkan.
“bagus itu buk, latih udin sampai bisa ya, aku sangat bangga sebagai
orang tua melihat anaknya mampu mengikuti perlombaan disekolah” ucap
haliman dengan bangga. Haliman pun meninggalkan udin dan ibunya untuk mandi
karena tubuhnya dipenuhi dengan keringat panas lantaran bekerja disawah.
Sementara udin dan ibunya
tetap semangat untuk terus melanjutkan latihan membaca. Tanpa terasa udin
latihan membaca sudah menghabiskan waktu 3 jam-an.
“buk, udin capek sudah, lanjutin nangti malam lagi ya buk latihannya”
pinta udin
“iya dah nak, kalok dirasa capek istirahat dulu dah, nanti ketika
capeknya sudah hilang ga papa lanjutkan lagi nanti ibu barengin” kata yani
Iya buk, udin main sama anak tetangga sebeleh dulu ya buk” kata udin
“iya nak, tapi jangan terlalu sore pulangnya” nasihat yani
“iya buk” kata udin sambil berjalan mendekati pintu dan keluar untuk
pergi kesalah satu rumah temannya itu.
Setelah udin keluar rumah
untuk pergi bermain dengan teman-temannya, haliman pun datang menghampiri yani
yang masih berada diruang tamu itu sambil membuka lembara buku yang dipengannya
itu.
“buk beneran udin mau ikut lomba membaca” Tanya haliman kurang yakin
dengan jawaban yani tadi
“iya pak, dia mau ikut lomba membaca lebih khusunya dia ikut lomba
membaca puisi” kata yani kepada suaminya
Baca Juga :
- Kekecewaan Petani Bawang Merah, Melihat Anaknya Malas Belajar
- Sebagai Seorang Petani Kopi, Bapak Bangga Kepadamu
“jangankan udin dapat juara ya buk, keikut sertaan dia sama dalam
perlombaan saja aku sebagai bapaknya bangga apalagi dia dapat memenangkannya.”
Kata haliman
“iya pak, aku juga bangga melihat anak kita ikut lomba” jawab haliman
“latih udin semaksimal mungkin ya buk” pinta haliman. Yanipun mengangguk pertanda setuju terhadap permintaan haliman.
Obrolan mereka berdua pun semakin lama, sesekali mereka berdua membahas tentang pertanian tembakau miliknya. Mereka berharap hasil tembakau tahun ini dapat lebnih baik dari ta7un-tahun sebelumnya. Walaupun mereka sedikit ragu terhadap hasil panen ini karena mereka sedikit meleset dalam perhitungan memprediksi turunnya hujan.
Memang tumbuhan tembakau
ini sangat tidak bagus jika mendapatkan kadar air yang berlebihan. Namjun
mereka berdua yakin dengan usaha dan doa pasti tuhan akan membantu untuk
mendapatkan hasil panen yang memuaskan. Tanpa terasa hari pun mulai gelap
mereka berdua pun teringat dengan udin yang belum pulang dari tempat
bermainnya
“oiya buk, kok udin belum pulang ya” gumam haliman kepada yani
“iya ya pak kok belum pulang dia” kata yani mengiyakan ucapan haliman
“biar bapak liat dulu ya di tetangga sebelah” kata haliman
“iya pak, ibu mau menyiapkan makan malam untuk kita dulu ya” jawab yani
Haliman pun pergi untuk
mencari udin kerumah tetangga sebelah, tidak terlalu jauh kakinya melangkah dia
pun melihat halim sedang asik bermain kelereng dengan anak seusianya.
“din, sudah mau malam nie, ayok pulang, ibu nunggu loh dari tadi”
ajak haliman kepada anaknya itu
“bentar pak, ini bentar lagi sudah selesai, dan udin segera pulang” jawab udin sembari mencermati permainan kelereng itu. haliman pun memahaminya bahwa anak seusia udin memang waktunya bermain-main. Haliman pun menunggu sampai udin menyelesaikan permainannya.
Setelah udin menyelesaikan permainan
kelereng dengan teman-temannya, udin pun langsung menghampiri bapaknya kemudian
pulang kerumah.
Didalam perjalanan pulang,
haliman tidak henti-hentinya untuk menasihati dan menyemangati anaknya yang
hendak mengikuti lomba membaca. Sesekali terdengar “kamu harus semangat nak
daalam, belajar biar menjadi anak yang sukses” kata haliman, udinpun hanya
mengangguk-ngangguk tanda memahami maksud bapaknya.
Sesampainya dirumah judin
pun langsung mandi, semantara haliman dan yani berduduk santai ditruang tamu
sambil menikmati tayangan yang ada dalam televisi. Lima menit kemudian udin pun
kembali dari dari kamar mandi sekaligus sudah mengenkan pakaian ganti. “buk
udin lapar” kata udin mengeluh.
Mendengar keluhan anak
satu-satunya itu yani pun bergegas untuk menyiapkan makanan untuk anaknya
sekaligus menyiapkan makan malam untuk sekeluarga. Ditengah-tengah makan malem
itu haliman bertanya kepada yani “buk, kira-kira kapan udin akan mengikuti
lombanya” Tanya haliman
“besokn pak” jawab yani singkat
“iya sudah klok gitu, berarti besok bapak nakan libur kesawah untuk
melihat lomba udin” ucap haliman “udin sudah siap?” tambahnya.
“siap bapak, kan udin sudah sering laitihan membaca” kata udin meyakkinkan.
“Alhamdulillah klok gitu, malam ini udin jika tidak mau latihan jangan tidur
terlalu malam biar besok badan jadi segar dan tidak ngantuk” haliman menasihati
Udin pun mengangguk, setelah makan malam selesai udin pun bergegas kekamar tidurnya untuk segera beristirahat. Sekali lagi ia membaca teks yang hendak di lombakan besok hari. Keesokan harinya udin, Haliman serta Yani bersiap-siap berangkat mengantarkan anaknya sekaligus ingin melihat anaknya tampil mengikuti lomba mambaca.
Satu persatu
peserta lomba mulai menampilkan bakannya. Pada urutan ke 14 nama udin di
panggil untuk maju dan naik keatas pintas dan membacakan teks narasi yang di
lombakan. Spontan kedua orang tua udin bertepuk tangan dan bahagia melihat
anaknya tampil diatas pentas.
Setelah semua peserta menunjukkan bakatnya. Para juri pun mengumumkan hasil dari perlombaan tersebut. Para penonton dan orang tua siswa yang mengikuti lomba mulai deg degan siapakah gerangan yang akan memenangkan lomba tersebut.
Dari juara ketiga sang juri
memanggil nama ismail sebagai pemenang, dan menduduki juara kedua terpanggil
nama udin, begitu bahagia haliman dan yani mendengar anaknya menduduki juara
kedua dalam perlombaan mambaca itu. selanjutnya nama yusuf dipanggi untuk
mendapatkan juara pertama, mendengar nama yusuf dari SDN bandilan 02 itu suara
tepuk tangan begitu meriah karena SDN tersebut merupakan SDN elit yang berada
di kecamatan Prajekan.
Setelah seserahan hadiah sudah selesai udin pun berlari mendekati bapak ibunya sambil menampakkan wajah yang ceria. Bapak ibunya pun sangat bangga mempunyai anak yang pandai membaca dan memenangkan lomba membaca antar sekolah.
Dengan rasa bangga kepada anaknya itu haliman pun berjanji untuk segera membelikan sepeda ontel kepada udin agar udin menjadi lebih semangat dalam belajar dan menjadi seorang anak harapan orang tua yang mata pencahariannya hanya sebagai petani tembakau.
